Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
Jangan Mengungkung Bahasa Indonesia, itu Bahasaku (6)

Ada tulisan, yang intinya "Para wali lebih suka menggunakan kata sembahyang DARIPADA sholat". Ada tiga hal yang bisa dibaca dalam tulisan itu (maaf, saya tidak bisa menemukan lagi link tulisan itu. Semoga pembaca masih bisa percaya), yaitu :

1. Jika menggunakan kacamata etimologi, persepsi kita akan berhenti pada semangat penulis yang ingin mengganti kata "sholat" dengan kata "sembahyang". Tentu keinginan itu diperbolehkan, karena di samping kedua kata itu memiliki arti yang "hampir" sama, pun mendahulukan "produk dalam negeri" memang bisa dicerna secara nalar.

2. Jika ditinjau dari kemunculan tulisan itu (yaitu beberapa hari sejak dimulainya ramai penistaan), tentu akan menimbulkan persepsi bias. Apalagi seusai tulisan itu muncul gerakan MASIV untuk meminta membubarkan MUI. Artinya, ada hasrat dari tulisan itu untuk menggiring terjadinya DIKOTOMI pemakaian bahasa. yang terbaca adalah, nuansa pendikotomian itu lebih beraroma "berat sebelah".

3. Logika berpikir saya (sebagai praktisi bahasa, khususnya bahasa Indonesia) merasa terpanggil setelah menimbang dua poin di atas. Pasalnya, saya merasakan sekali adanya arus yang berkeinginan untuk menggunakan bahasa sebagai "alibi" atas ketidaksukaannya pada satu hal (baik golongan, kepentingan, sistem, dll). Coba bandingkan juga dengan istilah Islam wahabi, Islam Nusantara, Jilbab Arab, Jilbab Indonesia. Sinergitas atas "niatan" memunculkan istilah-istilah unik itu akan terjawab dengan sendirinya. Apalagi jika kita mau lebih masuk pada latar belakang siapa yang memunculkannya.

Saya hanya mengingatkan saja jika gairah-gairah semacam itu khurang baik bagi kedewasaan negeri ini, khususnya untuk pendewasaan bahasa Indonesia. Akan terjadi pengkotakan, parsialisasi proses kebahasaan, dan pengungkungan bahasa itu sendiri.

Ingat, sholat itu bahasa Tuhan, sembahyang pun sama. Mendikotomikan akan keberpihakan pada satu bentuk bahasa apalagi diimbangi dengan adanya keinginan yang terselubung, sama saja dengan membiarkan hak publik untuk menelusuri Tuhannya akan menjadi terganggu.

Alibi jika Tuhan tidak perlu dibela, jika Islam Nusantara lebih mengena, jika buat apa santun tetapi tidak jujur, atau lebih baik kasar tetapi jujur, bukanlah hal yang logis. Tidak ada apple to apple yang pas dalam alibi itu.

Saya pernah mengupas tentang fenomena ini beberapa tahun lalu (lihat tulisan saya di Kompasiana atau di blog pribadi saya di http://bermututigaputri.guru-indonesia.net/index.html). Ada tulisan yang menarik, berangkat dari fenomena siswa saya yang dengan cerianya mengotak-atik kosakata seperti di atas. Misalnya : LEBIH BAIK NAKAL DARIPADA CURANG, LEBIH BAIK NGEPUNK DARIPADA SOK ALIM, dsb.

Simpulannya, jangan menjadikan bahasa sebagai bagian dari penggiringan atas opini. Tetapi jadikan bahasa itu untuk memperjelas opini, tentu dengan dasar yang logis dan normatif, dengan fakta-fakta dan bukti sejarah.

Salam Indonesia yang religius, jernih, dan teduh!

Kertonegoro, 21 Oktober 2016
Salam,

Akhmad Fauzi


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    830277

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner