Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
Harus Beda Dalam Membaca Indonesia, itu Bahasaku (2)

 

Hal yang wajar jika mesti terjadi dua kutub perseteruan dalam melihat wacana. Sejatinya bukan hanya dua kutub, mungkin bisa empat sampai lima lini yang gigih menatap polemik yang ada. Ada kutub Nusron, yang telah bertekad mati-matian membela dengan dalih jika polemik ini bukan hanya masalah umat Islam. Ada kutub yang merasa dinistakan keyakinan dan agamanya dengan dalih menjaga ketinggian nilai-nilai Illahiah.

Sebenarnya ada kutub lain yang sedang berusaha menarik kedua kutub itu dalam dinamika (sebatas) wacana. Kutub ini lebih suka saya juluki sebagai rumah sunyi para moralis. Siapa saja yang menghuni kutub ini. Saya berani menempatkan salah duanya adalah cak Nun dan Jaya Suprana termasuk yang harus ditempatkan sebaagai penghuni rumah sunyi ini. Ya, manusia sunyi yang ingin agar “garangnya” polemik berada dalam tataran moral. Ujung-ujungnya nanti adalah kelapangan dan kebiasaan peradaban dalam menikmati setiap polemik.

Satu kutub lagi, yaitu manusia-manusia apatis! Sama sekali tidak ingin tersentuh dan menyentuh selama kepentingan yang ada tidak terganggung atas dinamika polemik yang ada. Tipologi semacam ini lebih banyak, karena ingin menikmati hidup ini dengan segala jasa pelayanan yang ada. Bertransaksi sebatas hal yang verbal, selebihnya adalah privasi.

Kutub lainnya adalah kutub beku. Mendiamkan polemik dalam jalurnya, mata dan hati menutup rapat. Baik karena tidak ingin luka, maupun dilukai, dan melukai. Strata kutub ini lebih berjiwa “pandito”. Membiarkan para “cantrik berantem”, dengan sesekali menampakkan eksistensinya. Siapa tahu nilai eksistensi yang ditampakkan bisa menyentuh titik penyelesaian keberantemannya itu.

Ketika Ustad Yusuf Masyur diberitakan menangis atas dikeluarkannya energi pelototan mata salah satu kutub, sejatinya beliau sedang berada di arena polemik untuk menampakkan eksistensinya. Jika kemudian beliau terus melakukan “perseteruan terbuka” dengan pelototan mata itu, maka berarti ustad Yusuf Mansyur ingin masuk di kutub yang berseberangan. Padahal bagi saya, lebih baik dia masuk dalam kutub moral saja.

Untuk MUI jelas tidak punya pilihan. Wajar jika dia menjadi sasaran pelototan kutub yang bersebrangan. Karena MUI sedang diposisikan oleh sejarah, di polemik ini, sebagai organ yang berkepentingan dan harus menenmpati kutub yang berseberangan.

Nusron dkk. boleh saja jika memposisikan sendiri sebagai bagaian dari kutub yang berlawanan juga. Maka sudah seharusnya dia bergestur semacam itu.

Nah, ketika membaca statemen cak Nun dan Jaya Suprana, inilah yang seharusnya jangan pernah publik membiasakan menyeret keduanya untuk dipaksa masuk ke salah satu kutub yang berlawanan. Searogan apapun statemen kedunya, nilai kesunyian juga yang ingin diteriakkan. Frase yang ditata oleh keduanya pasti terkesan melompat-lompat, karena mereka memang “panas-dingin” ketika menata apa yang akan diungkapkan. Jiwa panas dingin inilah yang sejatinya menjadi tangis keduanya agar dua kutub yang berseberangan mau menjaga wibawa nilai sejarah pasca polemik berlaga.

Bagaimana dengan buya Syafii Ma’arif, gus Mus, kang Said, pak Din, dan tokoh-tokoh lainnya? Jangan pernah membiasakan mengorbankan ketinggian nilai mereka dimata sejarah bangsa. Sederhana sebabnya, mereka itu lebih suka memilih "jalur yang tidak pantas" untuk menjadi penguasa negeri ini dan mereka juga sadar jika mereka lebih tidak ingin bermain-main dengan kekuasaan.

Buya, memang harus mengatakan “Mari selesaikan dengan baik polemik ini dengan baik-baik”. Maka jangan terlalu jauh menterjemahkan itu dengan segala duga yang ada. Gus Mus, sudah makomnya harus mengajak intropeksi ditinngkatkan, tidak ada yang aneh. Boleh dan memang harus. Kang Said pun boleh rada sedikit melebar, meminta agar masalah ini bisa diselesaikan dengan damai tetapi dengan tetap proses hukum harus tetap jalan. Pak Din pun wajar jika harus membuka fakta jika polemik ini adalah penistaan, maka wajar pula jika ada yang marah dengan pernyataan "seseorang" di pula seribu itu. Tentunya dengan mengungkapkan kemarahan itu dalam koridor hukum. Nuansa yang ingin dibangun oleh pak Din adalah meminta publik menatap adanya fakta sebagaimana adanya dan menyikapinya juga dengan elegansi yang nyata.

Sangat tidak elok jika statemen-statemen itu harus diucapkan (misalnya) oleh Megawati, Amien Rais, Nusron, Habib Rizieq, juga politis yang sarat kepentingan. Ranah beliau-beliau yang saya sebut di paragraf ini memang harus “berani” mengambil kutub berseberangan.

Lalu, bagaimana dengan publik menyikapinya? Nah, di titik inilah ketepatan publik dalam membaca statemen-statemen yang ada akan menjamin adanya kedewasaan publik itu sendiri dalam menyikapi polemik yang ada.

Jadi, sejatinya, masalah “penistaasn agama” ini sudah usai di ranah religi dan sosial kemsyarakatan. Semua sudah "samikna waato’na" dengan jalur hukum yang ada.

Jadi, mari kita katakan “Hello Pak Polisi...?”.

Semoga aparat yang ada tidak berupaya (baik dengan diam-diam) untuk “masuk” menjadi bagian salah satu dari kubu yang berseberangan. Jika itu sampai terjadi (semoga tidak!), maka runtuh pula kutub-kutub yang ada itu. Yang ada adalah justru berbalik menjadi kutub yang berlawan dengan aparat yang ada.

Artinnya, gagallah negeri ini mengambil momen yang ada untuk menaiki tangga kedewasaan. Mau? Nau'udzubillah!

Salam siang Indonesia.

(2 dari 13 tulisan yang ada tentang #bulanbahasa, bersambung...)

Kertonegoro, 16 Oktober 2016
Salam,

Akhmad Fauzi


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    829443

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner