Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
Tersenyum Bersama Keluguan Siswaku Serial "Mengajak Siswa Berselancar Di Planet Imajinasi"

Tersenyum Bersama Keluguan Siswaku
Serial "Mengajak Siswa Berselancar Di Planet Imajinasi"

Akhmad Fauzi

1. Berselancar Dalam Proses Dramaturgi

Tidak dapat dipungkiri, pembelajaran Apresiasi Sastra bagi kebanyakan guru seringkali dikeluhkan dengan bermacam alasan. Mulai dari keterbatasan media, minimnya pengetahuan awal siswa sampai pada keterbatasan stok ilmu yang dimiliki pendidik itu sendiri. Hal ini berlangsung relatif cukup lama di semua tingkat satuan pendidikan, sehingga ada pola paten untuk pembelajaran ini, yaitu : teksbook unsich.

Padahal, Apresiasi Sastra untuk ukuran keterampilan berbahasa sangat diperlukan. Dengan sastra (termasuk mengapresiasi) hati terasa senang. Kesenangan hati menimbulkan terbukanya daya imajinatif. Semakin lebar wilayah imajinatif itu melanglang buana, semakin kokoh daya nalarnya. Berangkat dari kedahsyatan daya nalar inilah, kendala ketercapaian kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dapat tereleminasi. Bisa dipastikan akan mudah bagi guru untuk menuntaskan beban kompetensi di semua mata pelajaran.

Berdasar pemahaman di atas, saya, dengan bekal pengalaman mengajar yang masih belum seberapa, mencoba mempetakan permasalahan ini. Dengan sedikit keberanian, saya memutuskan untuk beraksi saja. Alhasil, lahirlah metode asimilasi proses untuk pembelajaran sastra (utamanya drama). Proses pembejaran ini pertama kali saya terapkan di semester pertama bulan Agustus tahun 2010. Seharusnya sudah terterapkan sekitar empat tahun ini, namun terlaksana dua tahun saja karena di tahun ketiga dan ke empat sudah tidak lagi dalam pembelajaran di dalam kelas (intrakurikuler) tetapi justru sudah bisa inklude ke ekstrakurikuler.

Garis besar dari metode ini adalah mengintegrasikan beberapa metode dalam satu rangkaian proses sehingga menjadi sebuah adegan yang kompak, baik di dalam maupun di luar pembelajaran. Di awali dengan pembekalan materi (metode diskusi, tanya jawab, inquiri) dan di akhiri dengan unjuk kerja berupa pagelaran (metode pemodelan, kooperatif learning, konstruktivistik, dan problem sulfing).

Metode ini di awali dengan pembelajaran (2 kali pertemua / 4 x 40 menit) di kelas VIII A-C. Selama 2 kali pertemuan itu, 8 metode (diskusi/tanya jawab, inquiri, pemodelan, penugasan, keterampilan proses, konstruktivisme, kooperatif learning, dan problem dulfing) silih berganti diterapkan. Di akhir pembelajaran pertemuan 2, yang berarti bekal dasar siswa sudah dianggap memadai, guru memberi penugasan secara berkelompok. Penugasannya berupa mengkolaborasikan hasil pembelajaran yang telah diberikan dengan daya kreasi dan imajinasi siswa, dalam bentuk berlatih drama untuk dipentaskan.

Duabelas kelompok yang terbentuk (masing-masing kelas 4 kelompok) berproses di luar kelas. Selama proses luar tersebut, guru memfasilitasi (dalam bentuk pemantauan, konsultasi, dan sharing) atas segala hambatan dan inovasi kreatif kelompok. Proses ini berjalan lebih kurang 1,5 bulan.

Satu minggu sebelum pagelaran, guru mengadakan pertemuan tehnis dengan :
1. Wakil kelompok dari kelas VIII, membicarakan tentang kesiapan dan kendala ujung pagelaran;
2. Wakil kelompok dari kelas VII, membicarakan tentang sistem penilaian yang harus dilakukan.
Jadi, siswa kelas VIII beriuh rendah mempersiapkan pementasan, siswa kelas VII mempersiapkan penilaian.

Ketika pagelaran berlangsung, nuansa yang ada adalah hari ini sekolah kami laksana panggung kecil dari besarnya giroh apresiator-apresiator pemula. Kiat cerdas yang mengkondisikan 226 siswa (karena masih ada kelas VII dan VII) harus berperan aktif (memerankan dan menilai) menyebabkan detik demi detik adalah pembelajaran tanpa dirasa oleh yang sedang belajar. Kala itu, tertepis sudah anggapan bahwa sastra (apalagi bila yang menampilkan adalah pemula) terasa hambar. Hal itu tidak terjadi! Gelak tawa dan kreasi yang unik sempat bermunculan, dan itu membuat saya juga sebagian guru dan penonton tidak menduga sama sekali.

Proses ini menghasilkan unjuk kerja, diskusi-diskusi, tanggapan-tanggapan, sekaligus penilaian. Pembelajaran mengharuskan adanya penghargaan, dan itu terasa ringan untuk dipenuhi. Proses ini masih berlanjut pada pembelajaran (berbentuk refleksi 1x40 menit) yang dikolaborasi dengan KD yang berdekatan (Sinopsis untuk kelas VIII dan Unsur Intrinsik cerita untuk kelas VII).

Lengkap sudah konsumsi ilmu mereka. Apakah sudah selesai? Masih jauh! Asimilasi proses dengan segala potensi dan bekal pengalaman tampil ini sekarang berada di tangan siswa. Dalam bahasa sederhananya, mereka kini sudah siap di titik tumpu awal khazanah sastra yang dahsyat!

Kenyataan membuktikan, dari 126 siswa kelas IX –yang notabene masih asing dengan dramaturgi- ketika diajak berselancar dengan metode asimilasi proses mereka dapat menikmati ajaibnya dunia sastra. Satu pernyataan yang masih terngiang, “kapan lagi pak…!?”, tanya mereka! lebih dari itu, dari 12 kelompok yang terbentuk, 3 kelompok dinyatakan belum tuntas (hanya 25%).

Pagelaran drama ini (sebagai unjuk karya siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia) sempat di ulasan di “Situs TALENTA” (Tabloid Pendidikan kabupaten Jember medio Nopember 2011 dan Nopember 2012). Lebih dari itu, berangkat dari dua pagelaran inilah, bayi "Kepompong" akhirnya lahir ke dunia sastra SMP Negeri 2 Jenggawah. Sebuah wadah ekstra teater yang telah beberapa kali bisa berkiprah di tingkat kabupaten sampai tingkat karisidenan Besuki, walaupun teater ini masih berusia dua setengah tahun. Hal ini saya paparkan bukan untuk bermaksud memberikan nuansa "wah" bagi pembaca, tetapi lebih sebagai penguat testimoni paparan tulisan ini.

2. Musikalisasi Puisi

Berangkat dari ucapan siswa : “kapan lagi pak…!?”, rasanya sangat kejam jika kegairahan mereka tidak segera disambut dengan manis. Dengan segala upaya yang ada, saya mencoba untuk mendiversifikasi model pembelajaran sastra, yaitu lewat musikalisasi sastra. Maka jadilah sejak tahun 2011 akhir (atau akhir Semester ganjil), siswa kelas IX diwajibkan untuk menampilkan musikalisasi puisi yang waktunya bertepatan dengan penerimaan raport.

Garis besar dari pembelajaran ini semirip dengan proses pagelaran drama di atas. Hanya saja untuk musikalisasi puisi yang tampil adalah siswa kelas IX, sementara kelas VII dan VIII dibentuk beberapa kelompok untuk bertugas sebagai juri, menilai penampilan kakak kelasnya itu.

Sama dengan drama, saat itu sekolah penulis bak lautan penikmat sastra. Kelas IX tampil mengekspresikan kemampuan yang dipunya, kelas VII dan VIII menyimak dan menilai. Sementara di pinggir-pinggir kelas wali murid bergerombol menonton musikalisasi itu sambil menunggu waktu pembagian raport semester ganjil.

3. Penutup

Besyukur sekali, Tuhan, Allah SWT memberikan kekuatan ke saya dan siswa saya untuk segera bergerak dan berapresiasi dalam dunia sastra. Perlu pembaca ketahui, sekolah ini baru berdiri tahun 2009 sebagai Sekolah Baru. Tahun 2010 siswa sudah berani tampil bermain drama di panggung, tahun 2011 diperkaya lagi dengan musikalisasi puis sampai sekarang. Tahun 2012 awal lahir teater "Kepompong" dan di tahun itu pula sudah bisa berpartisipasi dalam lomba teater tingkar karisidenan Besuki (terdiri dari empat kabupaten). Sekarang, drama lebur dalam teater yang selalu tidak pernah absen mengisi lomba dan event peringatan hari besar baik di dalam sekolah maupun luar sekolah. Pun, musikalisasi puisi sekarang sudah menjadi trade mark sekolah ini setiap kali mengakhiri semester ganjil.

Ulasan ini hendaknya terfokus pada kehebatan siswa dan kebenaran akan teori pendidikan. Siswa adalah kanvas kosong, mereka sejatinya rindu diisi apapun. Dan dengan integralnya pemakaian metode pembelajaran yang diterapkan di luar dan di dalam kelas ternyata memang bisa menghasilkan karya.

Sejak awal target yang diraih adalah mengenalkan dunia sastra pada para pemula ini. Meski ada adagium "sastra sulit bukan main" ternyata dengan kesungguhan semua pihak, saya sebagai guru bahasa Indonesia (yang tentunya penjaga eksistensi sastra berikut rentetan bentuk lainnya) merasakan kepuasan sekaligus semakin ringan beban untuk menanamkan nilai-nilai sastra dalam diri siswa.

Tentu sangat tersadari jika prestasi masih belum seberapa. Namun begitu, menatap semangat siswa setiap kali berlatih dan mengekspresikan kemampuan menjadi vitamin tersendiri bagi saya. Bukan sekarang hasil yang ingin saya raih, tetapi berharap sekali selanjutnya potensi dan kekuatan dasar imajinasi yang telah tersentuh itu bisa berkilau di kemudian hari, untuk mereka sendiri.

Selamat berselancar dengan METODE ASIMILASI PROSES untuk pembelajaran sastra dan mengajak siswa berselancar di planet sastra. Semoga bermanfaat.

(UNTUK KESELURUHAN TULISAN KLIK LINK DI BAWAH INI)
klik : http://edukasi.kompasiana.com/2014/09/30/tersenyum-bersama-keluguan-siswaku-serial-pembelajaran-bernuansa-energi-positif-epos-691960.html

(ARTIKEL INI DALAM RANGKA MENGIKUTI LOMBA BLOGGER TINGKAT NASIONAL. MOHON BERKENANNYA UNTUK MENGUNUNGI LINK DI ATAS. TERIMA KASIH)

Kertonegoro, 30 September 2014
Yang ingin menjadi pekerja seni,

Akhmad Fauzi
Berangkat Dari Hati Untuk Menumbuhkan Energi Positif
Ilustrasi : arsip pribadi
(4 foto)

20 DibagikanBatal SukaBatal Suka ·


Komentar :

No Komen : 2
Saat Santai :: 12-06-2017 15:39:48
tulisan bagus.. lanjuut ke artikel lengkapnya. cusss
 
No Komen : 1
agen sbobet :: 07-06-2016 20:20:11
guru memberi penugasan secara berkelompok
 
Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    830252

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner