Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
“Teletubies” Di 9 Juli

“TELETUBIES” Di 9 Juli

Akhmad Fauzi


Keplesetnya JK (di wawancara itu) ternyata ditangkap bak madu untuk di cari pembenarnya. selanjutnya pastilah kita tahu kenapa? Kini, nilai ekses (yang aneh, ketika kesalahan ada di satu pihak) sulit untuk menjadi suatu kesalahan. Coba kalau di pihak lain, habis sudah tokoh ini. Surya paloh pun memuntahkan statemen jika negeri ini sedang sakit, tanpa berasa lagi jika diapun bagian dari yang sakit itu. Menyatakan sakit tetapi bermain di tengahnya lebih pada mensucikan diri dengan menatap yang lain perlu hati-hati. Apakah salah pernyataan itu? Bukan suatu kearifan menyalahkan ketika kondisi sedang dalam sakit. Mau menyuarakan suara moralitas sudah menjadi kehebatan meski nanti akan dipentalkan dan dibesut apa saja.

Kasihan negeri ini kalau harus di bangun dengan polesan-polesan, hidup hanya di tatap kalah menang, bukan jejak kekuatan karakter dan nilai.

 

Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa dan Po. Tak lebih dari khayalan untuk menjustifikasi jika hidup hanyalah ceria. Konstelasi gerak yang mengerucut pada target 9 Juli semakin mengajak logika untuk kembali ke belantara. Siapa yang kuat dan berinfrstruktur hebat, menjadi jaminan memenangkan perang syaraf. Perang pembenaran dengan gincu polesan harus sekejam itu menanggalkan harkat nilai-nilai.

 

Dua tiga bulan lalu masih berteriak jika nilia agama hanya candu belaka, dan seminggu ini gencar mengajak untuk berkompetesi “siapa yang hebat dalam mengaji”. Padahal masih terngiang, bagaimana hujatan mengemuka ketika ada di suatu daerah harus menjadikan fasih tartil sebagai penentu kelulusan seorang pejabat. Menjadi kecurigaan ketika ajakan itu harus mulai bernafaskan agama. Berarti demontrasi penggugatan atas ketidaknyamanan yang selama ini ditampakkan mengandung target bidikan kepentingan diri, bukan ingin menguak eksperimen alternatif perbaikan.

 

Setali tiga uang, moral sesat pikir dengan ruh gagasan besar untuk mengakomadasi kebrillianan ide dan kosmopolitan wacana, ikut terganggu geraknya ketika sesat itu terjadi pada yang dicondonginya. Warna pembelotan tidak lagi ada kebakuan istilah, kecuali harus dipaksa ditatap “siapa dan mau ke mana”. Pembesaran beritapun harus menunggu melalui diskusi dulu akan nilai kebermanfaatan dan ekses langkah selanjutnya, bagi yang yang ingin membesarkan kontens berita itu

 

Layakkah permainan ini mengalir begitu saja di lebih dari setengah abad perjalanan negeri ini? Kemunduran yang ada, karena target berkuasa dengan segala cara keutuhan kemenangan lebih mengemuka akibat bola liar karambol sejarah bangsa. Ternyata rakyat lebih maju dalam menghentakkan langkah hidupnya, bagi mereka, nilia keberlangsugan hidup esok lebih bermakna daripada menghentikan titik-titik kekusaan dengan membangun bibit kesalahan untuk dipuja di masa kuasanya kelak. Rakyat telah berhasil mengakhiri tingkat kecurigaan dan kebencian, karena sangat meyakini besok pasti lebih baik dari detik ini.

 

Gaya Teletubies sering dipolarisasi dengan memasukkan tema-tema berat untuk menjatuhkan. Tidak saja menjatuhkan sisi seberang, karena sejatinya kejatuhan itu lebih mungkin terjadi pada diri sendiri. Target yang hanya bernilai puluhan jam ke depan harus digelontorkan semanis mungkin tanpa ingin tahu jika langkah yang ada menjadi potensi beban di ribuan jam selanjutnya. Ketika matahari menampakkan sinarnya, teletubies riang menyambut sebagai bentuk kepastian ceria akan datang. Konsistensi kebermaknaan dengan menitipkan kebermanfaatan terlalu tinggi untuk dipentas dalam hamparan cerita bumi Teletubies. Menyelesikan masalah hanyalah dengan menggunakan hitungan episode, karena Teletubies memiliki keyakinan episode selanjutnya pasti akan lain cerita.

 

Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa dan Po. Tak lebih dari khayalan untuk menjustifikasi jika hidup hanyalah ceria. Mempetakan 9 Juli dengan menunggu matahari terbit dan tenggelam, sungguh menjadi ketakutan tersendiri akan keberadaan moral bangsa ini. Membiarkan sembilan Juli dengan warna gerak seperti sekarang, tentu menyesakkan juga.

 

Dicari, penulis skenario negeri yang bisa menghantarkan negeri ini menuju 9 Juli dengan keseriusan langkah dan mengunci anasir-anasir yang meruntuhkan wibawa. Wibawa atas nama sosok untuk bisa melegenda, wibawa dari tingginya kejernihan pikir karena telah lulus melepas emosi berkuasa. Dicari!!!

 

 

Sayang sekali telah terlalu menipis jarak

untuk menghitung kenikmatan dengan kekusaan

dan terlalu jauh untuk meyakini nilai biru amanah

mewabah dalam satu gerakan

berbaju atas nama…


Kertonegoro, 27 Mei 2014


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    870891

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner