Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
Imin Vs Rhoma, Mahfud Pemenangnya

Imin Vs. Rhoma, Mahfud Pemenangnya

(Renungan Malam Jum’at : “Dilema Negeri Para Pujangga…”)

Akhmad Fauzi


Usang memang cerita tragedi kekecewaan ini, tergilas tema baru yang hampir dalam hitungan detik menyeruak di belantara wacana negeri. Legenda bang Haji mulai tenggelam oleh gambaran transaksional partai Beringin. Malam ini harus tergerus pula oleh kabar tersangkanya SDA. Benar-benar negeri para Pujangga, yang tidak pernah lepas dari imajinasi kasus dan lenggak lenggok langkah.

 

Diakui atau tidak, melepas sedikit fokus fikir dari suasana luar terasa eman. Hentakan yang bergulir dari waktu ke waktu menjadi sebab pikir tergoda untuk terus menyimak dan mereka-reka. Namun sayang, tidak sedikit yang terjebak oleh pemihakan-pemihakan. Bayangkan, Udar Pristono, sang wayang yang mulai tidak bungkam, diulas dengan gagahnya untuk tidak perlu diberi bantuan hukum. Paradoksi sikap sang pujangga yang kentara tergambar kalau ingin berteriak apa. Keretakan Golkar pasca bergabungnya ke salah satu kandidat menjadi bulan-bulanan disuarakan, padahal (perlu diingat) dua hari sebelum partai ini menambatkan pilihannya banyak yang berharap agar partai ini condong ke kandidat lain (meski dengan bahasa halus).

 

Imin vs Rhoma, termasuk yang menjadi komoditas ulasan para pujangga negeri. Rhoma harus jatuh dan harus tertimpa tangga pula. Lebih tragis lagi, sang rival telah dahulu melejit dengan tunggangan baru meninggalkan si Gitar Tua mendendangkan lagu kesepian di hiruknya belantara ambisi. Kembali disayangkan, unsur keberpihakan telah mengubur para pujangga dari esensi kebenaran dan cita rasa hati manusia.

 

Malam ini, Golkar mengadakan rapat pleno, kita tunggu rilis hasil rapatnya. Malam ini pula kita akan simak garangnya analisis para pujangga negeri ini akan ekses tersangkanya SDA. Yang bisa dipastikan, malam ini sama dengan malam-malam lainnya, imajinasi pujangga negeri akan meliuk-liuk liar untuk memposisikan teguhnya kepentingan. Bisa jadi rapat pleno itu akan menjadi awal neraka bagi ARB, dan kecil kemungkinan akan bisa menjadi angin surga bagi dia walau nanti hasil rapat itu akan menguatkan keputusan untuk merapat ke kandidat yang sudah didukungnya. Berita SDA akan meluncur deras sesuka yang membacanya, jika tidak tegar partai yang dinaunginya, maka akan menjadi ikon cerita seram barang satu dua hari ke depan.

 

Batas kebenaran sudah mulai menuju titik nadhir. Para pekerja wacana, ya pujangga, lebih suka mengintip salah daripada memposisikannya sebagai hikmah. Padahal nyata sekarang, dua kandidat yang menjadi inti bidikan akhir ternyata semakin tidak goyah. Jegalan ulasan dengan kalimat dan kata-kata pergi begitu saja. Sangat disayangkan, kenakalan ini tidak menunjukkan tanda-tanda jeda.

 

Negeri ini memang komplit, sinergitas kenakalan pejabat dengan kegarangan pujangga seakan berbanding lurus untuk mencipta budaya baru. Budaya saling jual beli akan kesalahan dengan melahirkan kesalahan baru yang dilakukan. Akankah masih bisa tersentuh kesadaran jika ada yang ingin mengajak untuk saling menguatkan kebenaran?

 

Mahfud MD menjadi pemenang. Pernyataannya tadi sore yang lugas untuk menanggalkan istilah negarawan dan guru bangsa seyogyanya menjadi pembuka kesadaran semua jika adu opini yang terjadi tidak lagi berlaku. Yang ada adalah bergerak untuk menentukan sikap setelah segala alur etika dilakukan. Filosofi meminta restu yang akhirnya menjadi ghiroh beliau melangkah dengan mantab bukanlah lelucon hidup. Karena dari restu itulah kaca diri bisa membaca suasana dan kemungkinan. Begitupun dengan meresapi masukan dari berbagai pihak, ternyata bisa menjadi penguat keyakinan jika tudingan dan todongan hanyalah kamuflase untuk menyilaukan langkah.

 

Meramu antara stigma ambisius serta realitas untuk ikut melukis adalah desakan energi yang maha dashsyat bagi perjalanan hidup seseorang. Ketika terputuskan, layaklah jika kita memberi beliau kesempatan untuk bisa tidur nyenyak kembali. Dan layak pula jika kita berani meratapi kepongahan diri tatkala kita melakonkannya sebagai pelaku antagonis. Ketika kita memposisikan dia bak raksasa yang tidak ada lagi ruang untuk indah.

 

Mahfud memang pemenangnya, dari pertarungan etika yang pernah diadegankan dari lakon anak manusia. Karena telah berani mendialogkan diri yang berakhir pada keputusan tanpa celah untuk berniat membuat salah, apalagi menyalahkan.

 

Akankah kita berani untuk mengakui jika ternyata kita yang babak belur? Bukan Mahfud, Rhoma, dan Imin? Bukan Golkar dan ARB-nya, bukan monorel dan penculikan. Maka sudah seharusnya Jokowi dan Prabowo berani berkaca dari sakitnya mereka. Karena merekalah, makna Jokowi-Prabowo semakin ada.

Untuk sang Pujangga, si pengulas wacana…? Jangan pernah berhenti bernyanyi, cukuplah tersadari jika sumbangnya nyanyian itu ternyata bisa menjadi energi kebaikan, jika diresapi dengan penuh maknawi. Walau tetap terasa sumbang…

Warning!

Luka tubuh mudah terobati walau amputasi yang terjadi. Tetapi luka hati? Sementara mati pasti adanya, sedang luka (di hati) belum sembuh jua…


Kertonegoro, 22 Mei 2014


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    889986

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner