Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
Cerbung: MENGGANTUNG DI TEPI ANGAN (Episode 3: Surat Takdir Cinta Memanggil Lagi)

Cerbung:

MENGGANTUNG DI TEPI ANGAN

(Episode 3: Surat Takdir, Cinta Memanggil Kembali)

Akhmad Fauzi


 

Lihat episode 2: http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/03/18/cerbung-menggantung-di-tepi-angan-episode-2-aku-kehilangan-639633.html

 

13957195261951303182

Kalau sudah menjadi keyakinan, hanya diam yang bisa dilakukan.

Kalau sudah menghilang, hanya bisa memandang

Mengembangkan rasa, hanyalah untuk melestarikan yang ada

Melambungkan cerita, hanya untuk mengisi ruang hampa

Aku belum menemukan alasan untuk menutup catatan ini

Ruang hampa itu belum menuliskan sinyal akhirnya

……………

Keheningan memang memilukan!

Selagi memori otak terus memunculkan Senyum itu

Apa yang bisa terbaca dalam gelisah diri?

Bersembunyi bagai melenggang dalam kepengapan jejak

Berteriak bukan bentuk elegansi bertindak

Bernyanyi, hanyalah menambah bara derita

Ketika cinta sudah tertanam, filosofinya bulat utuh segala bayang-bayang

Menjadi suatu keharusan memanggil keseimbangan dalam semangat kegairahan

Mundur memang keniscayaan, tetapi berdiam diri lebih mulia dilakukan

Ada nelangsa yang pasti akan ditetaskan, ditengah hingarnya duga kehampaan

Jika harus menghilang!

Aku dalam wacana memanggil

Memanggil gairah dalam keseimbangan

Agar tumbuh kembali kembang

Dipurnama-purnama jelang

Aku dalam kondisi bimbang

Terlentang dalam kesenyapan

Otot meregang berharap sangat

Tertindih tumpukan sayang

Yang beerhenti mengembang

Lebih tinggi dari sekedar bayang-bayang

Akankah akan terpanggil

Dengan suara habis termakan ilusi

Walau gegap gempita dalam rindu

Di balik tanda tanya

Dilepasnya sangka-sangka

………………………………

Malam mendekati pagi, menjadi ketakutan tersendiri ketika harus menyusuri aktifitas tanpa engkau lagi. Entah berapa jam puisi ini aku tulis, menggantung semalaman. Setahuku, selepas Isya’ aku merindukannya. Wajah oval dengan rambut sebahu yang senantiasa terurai lembut di setiap lenggok langkahnya. Tawa renyah dengan curian tatap mata yang sesekali mengundang sangka. Aku rindu sapamu lagi Die, meski terkadang masih terasa canggung gaya sapamu itu selama ini.

Jam berdentang tiga kali, memaksaku untuk melelapkan diri malam ini. Besok adalah batas akhir hasil analisisku dalam menindaklanjuti surat keputusan perusahaan ini. Konyolnya, tidak ada lagi kegairahan meski sampai jelang subuh ini belum juga aku sentuh. Dalam terpejamnya mata tampak pelototan pak Teguh lengkap dengan sikap gagahnya menuding-nuding, mendamprat-damprat. Anehnya, sungguh tidak ada lagi ketakutan yang hinggap dipikir kini.

“Mas, mengapa ngga terus terang saja jika memang benar ada masa lalu…”, awalanmu memulai pertemuan terakhir kita di siang itu. “Aku memang lebih percaya dengan pengakuanmu, Mas. Tapi, ternyata bukan begitu kan ceritanya, Mas?”. Ucapnya lagi setelah mampu menguasai isak tangis yang terburai hampir setengah jam lalu.

Aku terdiam penuh kebingungan menatap Silvi. Sama sekali aku tidak menyangka jika Ayu seberani itu melakukannya ke dia, gadis putih cantik ini, gadisku, yang masih tiga purnama lalu aku lumat cintanya, Silvi. Ketidak-percaayaanlah yang menyebabkan kebingungan ini. Sulit untuk ditarik keterkaitan, mengapa Ayu melakukan ini.

Bergesernya aku mendekat menjadi sebab gadis ini merebahkan kepalanya di belakang bahuku. Tangan putih itu terasa tanpa aliran darah! Aku remas dengan lembut, terhampir pula dalam bibirku jari jemari lentiknya. Lama, senyap.

“Dia bukan apa-apa, Die. Bukan masa lalu ku, juga bukan cinta yang pernah berlabuh…”, desahku lirih yang aku akhiri dengan kecupan penuh makna di telapak tangannya.

“Aku malu, Mas. Keberaniannya menjadi bukti nyata jika terasa ada cinta di sana!”. Bisiknya, kembali terburai derai tangisnya. Mengalir deras pula air mata membasahi hampir setengah punggung ini.

Tak ada lagi kata yang bisa dikeluarkan, kecuali tangis sesal gadis ku ini dalam dekapan sayang. Siang terik yang tak mempan lagi memanaskan situasi hati berdua. Meningginya rasa heran akan ulah Ayu menjadikan ketakutan tersendiri untuk ditinggal Silvi. Apa yang telah aku perbuat dengannya?

Satu persatu tetesan air mata itu aku sentuh dengan lembutnya. Mengharap jika air mata itu adalah permata yang tidak harus keluar dari cinta ini. Aku belum mampu membeikan penjelasan apapun tentang itu karena memang lebih dahsyat yang tak terduga dari pada nyata yang ada. Seingatku, ketika aku titipkan cinta ini, maka selesai sudah catatan yang ada dalam diri. Tidak ada satupun yang harus dihapus karena salah cerita. Tidak perlu ada bab yang meski terevisi lagi.

Berjalan tiga purnama melangkah bersama menyusuri lorong indah adalah waktu yang sangat berharga. Masa-masa yang butuh pemahaman, butuh bumbu-bumbu liukan sayang, butuh pemaksaan untuk semakin meyakini.

Sesekali aku kecup mesra rambut hitam yang kini tepat di bawah daguku ini. Sambil mengusap lelehan air mata aku paksakan dada ini menghembuskan detak kegelisahan.

“Die, aku hanya bisa menjawab seperti itu, biarkan waktu yang bercerita. Biarkan aku terdiam saja, karena ketika apa yang engkau miliki begitu teryakini… diam lebih berarti, Die…”, bisikku, aku hadapkan wajahnya tepat di hadapanku, maka terkecup sudah kening putih itu.


—–)***(—–


Pelangi di seberang arah kadang hilang kadang tampak. Hamparan luas persawahan ini menjadi taman alami titik-titik hujan yang dipermainkan hembusan angin. Menari berkilau tertimpa matahari senja. Menjadi adegan penghibur tersendiri atas kekalutanku. Ingin aku tenggelamkan nyerinya rindu ini bersama arus sungai yang hanya beberapa langkah dari tempat ku duduk. Melepas gerah yang hampir seharian mengajak dialog warna-warna alam untuk menemukan yang kini mulai hilang.

Alam yang pernah menjadi saksi atas padunya dua tatap insan. Yang telah melepaskan ketertutupan rasa untuk merajut dawai hidup dalam belantara asmara. Rajutan yang begitu manis di rasa kala itu. Sembari menunggu hujan reda, engkau membinarkan wajah untuk aku seka dan aku sapa. Die, ini tempat kita! Sore yang penuh cita, tak lagi ada ketakutan akan kesendirian, kala itu. Ayunan kakimu di kursi ini mempercantik sikap kegirangan, masih terbaca jelas di sore ini.

Hentakan lagu riang dalam hatimu di antara hembusan nafas yang engkau desahkan, kini sedang aku cari. Di celah-celah kaki kursi, di antara belukar yang melambai-lambai tertelan arus air atau di gemirisiknya dahan terhempas angin. Bersembunyi di mana rasamu Die. Aku harus menemukan itu untuk aku usap lagi dengan penjelasan yang sebenarnya.

Jika engkau kini meratapi cinta yang ada, aku malah sedang bergairah mencarinya. Tangan halus yang pernah engkau lingkarkan itu menjerat logikaku untuk terus menyulamnya. Yang aku yakini, bukanlah seperti yang diberitahu Ayu, Die. Kebanggaanku memeluk cinta kita adalah bukti nyata jika masa lalu tidak pernah ada. Seperti hari ini yang aku habiskan waktu ku di tempat pertemuan pertama kita. Bukan hanya untuk mengambil bayang-bayang, lebih dari itu!

Die, Seharusnya hari ini batas akhir analisisku tentang surat keputusan itu. Aku tidak mau itu terjadi. Yang pasti Meta akan merindukan ku, Die. Dapat dipastikan ribuan kali telah ia lakukan untuk menghubungiku. Semoga saja lelaki tua gendut itu tidak melampiaskan kekesalannya ke dia. Justru aku berharap Meta dengan konyolnya berani mendamprat lelaki tua itu.

Ah, Meta juga rindu engkau sayang. Cintanya padamu bisa jadi melebihi cinta yang aku punya. Selama beberapa hari ini setiap kali aku bicara tentangmu, selalu tangan mungilnya menjamah wajah ini, menenangkan aku.

“Dia tidak pergi kan Bang? Aku masih ingat, matanya menyiratkan dalamnya sayang ke Abang. Apa yang ia rasakan kini, entahlah, benarkah Silvi akan berani membuta tuli dengan cinta Abang…”, alunan kata renyah yang keluar dari mulut Meta yang kadang terasa air matanya pun ia usapkan disekujur wajah ini.

Die, ada aku yang memanggil-manggil mu. Juga ada Meta, yang tidak ingin kita memaksa melepas rasa. Menghilanglah, sembari menunggu waktu aku mengurai benang kusut ini. Berat memang, tetapi ada engkau dan cinta kita di sana. Kalau toh ini adalah pusaran, aku berjanji aku harus bersamamu. Terlepas dari pusaran itu, atau tenggelam!

—-)***(—-

“Bang, kenapa HP dimatikan!”, teriak Meta mengagetkan. Belum juga aku lepaskan helm, gadis lincah ini sudah nyerobot mengagetkan, sepagi ini di parkiran pula.

“Iya, kamu tahu lah Met…”, jawabku singkat setengah tidak menghiraukan.

“Memangnya lebih menguntungkan dimatikan? Rugilah Bang, apalagi bos sudah keburu ke LN, ngga tahu kapan datangnya…! Rasain looh..!!!”, ceriwis Meta tampak tersirat berbagai macam rasa mengumpal dalam ceriwisnya itu.

“Wah, Bener nich Met! Kebetulan donk, sayang. Kita bisa santai-santai, aku akan bebaskan kamu dari beban kerja, terus, aku bisa menunda lagi hasil laporan analisisku…..!”, kataku setengah memekik.

Entahlah, ada rasa lega yang tiba-tiba hinggap mendengar bos sudah pelesir ke luar negeri. Sekejap saja terbayang penundaan akan implementasi surat keputusan itu, terbayag pula ada kesempatan untuk bisa membuktikan kekuatan cintaku ke Silvi. Saking girangnya, aku tinggalkan Meta tanpa meninggalan jejak sapa apapun ke dia, terlupa sudah menatap dan mengusap ubun-ubunya yang biasa aku lakukan setap kali berpisah dengan dia.

Aku letakkan tas kerja semerdeka mungkin di atas meja, berdiri sebentar menghela nafas panjang kelegaan sembari menarik serileks mungkin kedua tanganku ke atas. Sengaja aku hadapkan wajah ini ke meja Silvi yang beberapa hari kosong tak berarti. Semoga helaan nafas ini menjadi kekuatan aurora diriku hari ini untuk mencari jalan keluar agar surat ini menggantung lebih lama.

Ah, Silvi, menatap tempat dudukmu saja menjadi hirupan energi pagi ini. Mengapa masih saja hanya separuh yang engkau sadari akan hasrat ku ini. Tatapmu memandangku di belakang meja itu dengan senyum yang engkau maniskan ternyata memang aku rindukan.

Ah, tidak! Hari ini bukan waktunya cengeng meratapi yang sedang terjadi. Kepergian bos harus menjadi penambah energi untuk mencari dan mencari. Mencari jalan agar wajah itu masih bisa aku sapa setiap pagi.

“Ada titipan memo dari Mas Ardy, katanya dari pak Jaka, untuk Abang…”, ketus Meta, terasa hambar dan tanpa rasa.

“Eeeeiiittt…, sebentar gadisku, jangan kabur dulu lah…?”, sergahku sembari secepatnya menyambar lengannya, dengan sengaja sedikit menggoda.

“Aku mau duduk, banyak kerjaan hari ini. Tuhhh! Ditinggal Abang satu hari semua berkas lari ke saya. Masih kurang…!”, pelotot Meta semakin ketus.

“Centil…? Iya. Faham kok. Lumrah kan…? Nanti juga saya bantu. Maaf ya, tadi aku lupa menggandeng kamu masuk kantor. Tahu kan kenapa? Hari ini aku bakal punya waktu untuk mencari celah untuk menata cinta….?”, ucapku berlagak membanyol di depan Meta.

Berharap dia tidak lagi ketus sekaligus berharap dia juga tahu jika aku sedang berusaha mencari sela untuk menemukan lagi Silvi, cintaku.

“Iyaaaa, Tauuu…! Cepat baca sana memonya, siapa tahu aku bisa membantu apa yang dibutuhkan”, lunak Meta.

Yups, berhasil siasat ku, hanya dengan bermodal cubitan sayang di kening mungilnya itu. Dengan senyum mengembang aku iringi tatap cembeut Meta melihat aku duduk. Dengan meghela nafas panjang aku membuka memo yang terkesan teramat resmi ini, dibungkus anvelop pula. Wih, jarang aku menerima memo seresmi ini. Aku lirik Meta, ia masih berkenan menatapku.

Meta…, Meta. Beruntung sekali aku punya partner seperti kamu. Kita memang tim yang tangguh ya. Tiga tahun kita jadi tim, hampir seluruh pekerjaan dapat dituntaskan tanpa cela sedikitpun. Gayamu yang serba bisa dengan gestur yang hampir semua penghuni kantor ini bisa menerima, menjadi senjataku untuk memperlancar segala beban kerja. Jarang aku dengar kata “Iya, sebentar…”, atau “Nanti saja ah….”, setiap kali permintaan tolongku dia dengar. Justru aku yang sering kelabakan ketika engkau ajukan pertanyaan, “Apalagi Bang…?”. Ah, dinamisnya kerja dengan mu, Met.

Betapa rancaknya jika engkau di suatu kali nanti akan aku usulkan untuk berkolaborasi dengan Silvi, cintaku. Pasti akan semakin ramai tim kita. Ah, sayangnya kini masih terkendala, sabar saja ya Met, ya Silvi sayangku. Hari ini aku akan mencari celah untuk mensiasati skenarioku itu.

Lembar memo itu kini terhampar di meja, seperti biasa aku ambil bolpoint barangkali ada yang perlu aku garis bawahi. Aku simak mulai dari bagian atas, bussyyeeet, resmi amat! Ngga biasanya pak Jaka memberiku memo seresmi ini, berstempel pula. Gila, rada serius kalau gitu. Ok, akan aku simak senikmat mungkin apa isi memo ini. Yah, itung-itung meletakkan sebentar kangenku ke Silvi.


 

 

PT. SANDY BUANA CIPTA

DEVELOPER - CONTRACTOR -WODO PROCESSING - TRADING

Office : Plaza Gembira lt. 2 phone (021) 567891 - hunting

Untuk : Sdr. Ujang Sutarna

Ka.Div. Perencanaan dan SDM

Harap segera atur proses pembentukan Kantor Perwakilan di Banjarmasin. Tempatkan nama-nama di bawah ini sesuai dengan jenjang karier dalam data base kepegawaian di perusahaan. Nama-nama itu adalah :

1. Solikun

2. Muhtadi

3. Endang Witarsa

4. Lope Ferdinan

5. Silvi Setyowati

6. Ade Pangestu

Kebutuhan tenaga tehnis lainnya bisa dibicarakan lebih lanjut dalam tataran prosedur Kantor Perwakilan.

Akibat logis pembiayaan dari surat ini dibebankan kepada Kantor Pusat sebagaimana biasanya.

Harap diperhatikan, terima kasih

Dari : Jaka Wiguna


Lemas tubuh ini, setengah tersadar aku panggil Meta, “Met….!, sini…”, lirih, nyaris tak terdengar.

Aku lihat samar-samar tubuh kecil itu seakan melayang menghampiriku, berkali-kali aku hamparkan memo ini, aku bolak-balik, aku periksa kesamaan antara anvelop dengan surat yang aku pegang, seakan berharap bukan ini memo yang aku terima pagi ini. Meta mendekat, mengambil memo itu. Aku lunglai…

……….. (bersambung)

Lihat Episode 1 : http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/03/11/mengantung-di-tepi-angan-637774.html


Kertonegoro, 25 Maret 2014


Ilustrasi kolom.abatasa.co.id


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    870893

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner