Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
KEMBALIKAN BAHASAKU

13827793661400594539

 

Kembalikan Bahasaku

Akhmad Fauzi


 

Menyimak ulasan Bung Nicolas Manoppo (Pensosbud KJRI Sydney) tentang kondisi pembelajaran bahasa Indonesia di negeri Kanguru, terbersit keirian yang cukup mendalam. Ada dua poin yang bisa diambil teladan dari ulasan beliau, 1) kegigihan pengajar bahasa Indonesia yang berani mengambil posisi untuk mensejajarkan bahasa ini bersaing dengan bahasa lain yang ada di negeri itu, 2) Dampak dari kegigihan itu menghasilkan respon positif dari masyarakat (khususnya siswa didik) yang ada di Australia. Dinamisnya geliat dan respon pembelajaran yang terurai di artikel itu setidaknya menjadi bukti bahwa masih ada yang memiliki kepedulian akan bahasa Indonesia. Maka seharusnya juga menjadi pembuka kesadaran kita untuk memberanikan bertanya kepada diri kita sendiri. Bagaimana dengan sikap kita? Apa yang telah kita perbuat untuk menempatkan bahasa nasional ini agar tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (lihat referensi link dari tulisan ini)

 

Masih teringat di benak kita bagaimana kontroversinya pemakaian bahasa oleh seorang Vicky “sipenakluk goyang bebek”. Ironisnya, diakui atau tidak, konten yang disuarakan dari kontroversi itu lebih banyak pada rasa penghantaman pada figur, bukan pada memisahkan gaya bahasa yang dipakainya dengan konsep bahasa Indonesia yang seharusnya setiap warga negara memiliki kewajiban untuk tetap menjaga ketinggian harkatnya. Atau ada lagi, yang sering tidak kita perhatikan, adalah pemakaian bahasa oleh para komedian ala stand up yang sekarang sedang menggila di berbagai stasiun televisi.

Paradoksi dua alinea di atas sebenarnya bukan hal baru, di tahun 90-an pernah juga ada penggugatan pemakaian bahasa yang tidak sesuai dengan ruh bahasa Indonesia. Penggugatan itu berujung pada gerakan “nasionalisasi istilah”. Papan reklame, baliho, sampai pada pesan-pesan singkat semacam istilah “welcome” digugat untuk lebih ramah dengan istilah yang ada di bahasa Indonesia. Namun sayang, greget rasa nasionalisme dari sisi kebahasaan ini lambat laun menghilang dengan sendirinya seiring menghilangnya pakar-pakar bahasa Indonesia tempo dulu (semisal : Anton Mulyono, Jus Badudu, dan lain-lain)

Sepengamatan saya, dalam dua tahun terakhir ini benih-benih disintegrasi kebahasaan itu mulai muncul lagi. Kalau memang benar demikian tengarainya, maka bisa diprediksi tingkat kerusakan pemakaian itu akan lebih parah. Istilah “coy”, “ga pede”, “bro…” termasuk “sizzt…” juga frase “nggak lagi”, “gile abis”, “ngga ada matinya..” dan lain-lain menjadi fenomena pemakaian istilah yang sudah mulai lumrah dipakai. memang benar, istilah itu masih jarang dipakai di suasana yang resmi dan lebih mengedepankan nilai gaulnya. Tetapi harus diingat, justru yang mengganggu itu adalah ketika istilah-istilah baru itu memenuhi ruang hidup kita hampir selama 24 jam di sembarang waktu dan tempat.

1. Kajian Dari Sisi Perundangan Yang Ada

Kalau kita mengacu pada Undan-Undang no. 24 tahun 2009 tentang keberadaan Bendera, Bahasa, Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan jelas diharapkan bahwa semua masyarakat lebih mengutamakan bahasa Indonesia. Memang banyak ahli bahasa yang saling berseberangan dalam melihat Undang-undang ini. Ada yang mengatakan tidak perlu sampai dijabarkan dalam bentuk UU tetapi cukup tetap termaktub dalam UUD 1945. Ada juga yang justru tidak cukup hanya UU tetapi perlu dijabarkan lebih rinci dalam peraturan (baik dalam bentuk PP maupun PerPres). Kondisi perbedaan pendapat ini intinya sama, yaitu menginginkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk lebih meningkat keberadaannya dalam pemakaiannya. Kedua pendapat tadi sama-sama menyayangkan adanya ketidakjelasan penegakan aturan yang berkaitan dengan pemakaian bahasa Indonesia ini.

Lebih dari itu, wacana bahasa nasional ini seharusnya lebih ditekankan pada sisi moralitas kita dalam berbangsa. Tingkat kebanggaan masyarakatlah yang seharusnya lebih diperhatikan dalam melihat eksistensi bahasa Indonesia ini. Moralitas rasa memiliki inilah yang sekarang mulai tidak ada lagi yang menggemakan, baik secara individual maupun kelembagaan (baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah). Praktis, dalam tataran pemakai bahasa Indonesia seakan seperti hilang kendali. Disatu sisi perusakan-perusakan (disengaja maupun tidak, baik karena efek globalisasi maupun sebatas kreatifitas sesaat) saat ini begitu masiv terjadi, namun di sisi lain lembaga yang seharusnya bergerak untuk menjaga marwah bahasa Indonesia seakan kehabisan stamina untuk bertarung dengan gerakan perusakan-perusakan itu. (lihat referensi link dari tulisan ini)

2. Menitipkan Harapan Di Kurikulum 2013

Meskipun kurikulum ini masih diterapkan secara terbatas, setidaknya kurikulum ini telah mematenkan muatan bahasa lebih besar dibanding kurikulum sebelumnya. Hal ini tentu memberikan tantanga tersendiri bagi pendidik, khususnya guru bahasa Indonesia untuk memanfaatkan sebaik mungkin penambahan muatan kebahasaan ini dalam kurikulum 2013 ini. Setidaknya guru memiliki keleluasaan untuk menanamkan materi bahasa Indonesia ini lebih besar porsinya daripada sebelumnya. Kesempatan ini harus benar-benar bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.

Pemberian porsi waktu yang lebih ini tentu menyiratkan kepada kita bahwa negara sedang ingin membangun berbahasa Indonesia yang baik bagi masyarakatnya. Cukuplah bagi kita untuk ikut mensyukuri hal ini, meskipun kita tahu tidak semudah itu penanaman berbahasa Indonesia bisa terwujud. (lihat referensi link dari tulisan ini)

Delapanpuluh lima tahun sudah bangsa ini dengan tekad yang bulat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Perjalanan ini bukanlah waktu yang singkat, maka seyogyanya kita gemakan kembali nuansa rasa nasionalisme di 85 tahun lalu saat ratusan jiwa-jiwa pejuang bangsa memekikkan kesepatakan menjadikan bahasa Indonesai sebagai bahasa nasional.

Filosofi bahasa nasional hanya ada dalam benak masing-masing warganya. Apakah bisa membanggakan dirinya menjadi bangsa Indonesia? Apakah hanya sebatas peristiwa masa lalu yang kemudian mencari alternatif-alternatif lain untuk konteks kekinian. Atau membiarkan bahasa ini berjalan apa adanya.

Realita membuktikan, Ada semangat yang sayup-sayup tertangkap dari negeri jauh kalau sekarang pekerja-pekerja bahasa sedang bekerja keras membangun kewibawaan bahasa Indonesia agar mampu bersanding sejajar dengan bahasa-bahasa lain. Teramat berdosa jika kita yang di sini, di rumah sendiri, negeri sendiri, membiarkan bahasa itu berjalan tanpa tahu rimbanya.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Selamat untuk bahasa (ku) Indonesia

Jayalah bangsa dan bahasa ku


Kertonegoro, 26 Oktobeer 2013


Referensi link :

1. http://bahasa.kompasiana.com/2013/10/25/perkembangan-pembelajaran-bahasa-indonesia-di-new-south-wales-603749.html)

2. http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/04/16/undang-undang-bahasa-2/

3. http://setkab.go.id/berita-8632-inilah-muatan-umum-dalam-kurikulum-sd-smp-dan-sma-yang-baru.html

Gambar dari : remaja.suaramerdeka.com

*Artikel ini dimuat di Harian Jawa Pos Radar Jember pada 28 Oktober 2013


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    868761

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner