Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
PKS DAN JOKOWI

DIBALIK TERBAKARNYA “HUMA” PKS

DAN KILAUAN “TAWA” JOKOWI


Akhmad Fauzi*

 

Entah memang lagi hits-nya atau memang sudah taqdir, dua pekan ini PKS dan Jokowi bisa diibaratkan bagaikan dua sisi  keping mata uang yang sekarang diburu oleh siapapun. Di twitter, FB, media online, media cetak dan elektronik, bahkan di warung-warung kopi, antusiasme untuk membicarakan keduanya ratingnya bisa mengalahkan “Miyabi” atau “Lady Gaga” sekalipun. Bahkan kekalutan kenaikan BBM dengan “lipstik” BLSM pun sepertinya mampu ditenggelamkan oleh tema keduanya. Pantas kiranya jika PKS dan Jokowi dinobatkan sebagai “celebreti” bulan ini. Sebuah orkestra kehidupan yang didambakan sejak dulu, yang tidak akan sempat muncul ketika orde sebelumnya. Bagaimana masing-masing memiliki hak untuk mengemukakan pendapat dan punya kewajiban pula untuk dikritisi.

 

Anehnya, keburaman yang sedang menggelayuti PKS. Sementara Jokowi begitu “harum” terdengar! Terlepas dari benar tidaknya keburaman dan keharuman itu, penulis melihat adanya korelasi yang kuat antara “bisik-bisik” di akar rumput dengan pemborbadiran berita tentang keduanya baik di media maupun di opini-opini yang ditulis. Entah kebetulan atau tidak, media dan tulisan-tulisa yang ada itu sepertinya menyuarakan kekompakan “ganyang” PKS dan “GO!” Jokowi. Begitu penulis membuat tweet : “PKS tidak jahat kok, hanya sedikit genit, biarlah....” maka luar biasa respon dari tweet itu. Begitu juga ketika di akun penulis tertulis tweet : “Dengan musik rock, Jokowi mampu menjiwai karakter kerakyatannya”. Sungguh luar biasa dahsyatnya imbas pembentukan opini yang telah dibuat media lewat pemberitaannya ini. Jangan-jangan sekarang yang berkuasa bukan SBY tetapi justru malah media-media itu! 

PKS yang dalam konferensi persnya mengatakan tidak tersangkut dengan LHI, AF, apalagi “wanita-wanita” terasa cukup berat untuk memutihkan warnanya lagi. Gempitanya Fachri Hamzah meluruskan pemberitaan seakan menguap di tengah jalan! Kalah nyaring dengan suara yang ada. Begitupun dengan upaya sang Presiden baru PKS (Bang Anis Matta) yang road show ke media-media tidak mampu mengupas kerak yang sudah terlanjur menempel di publik, karena masivnya pemberitaan “miring” kasus daging itu.

Sebaliknya, hanya dengan cukup tersenyum aroma nafas Jokowi begitu harum terhirup ke mana-mana (dan seakan harus terjaga keharumannya). Hingar-bingarnya Kasus penggusuran akibat relokasi rusun di Jakarta Utara tidak mampu mengkusamkan wajahnya. Kemacetan yang masih terjadi bahkan banjir besar tempo hari justru menjadi energi bagi Jokowi untuk melambungkan citranya, yang konon semakin tersebar isyu RI-1 sedang mengintip sang maniak musik rock ini.

Tidak ada yang berbahaya kalau memang demikian realitas kehidupan demokrasi di Indonesia. Tetapi akan berbahaya kalau dua tema ini “sengaja” dibentuk! Letak berbahayanya adalah jika dua fenomena yang berbanding balik itu ada skenario dari sebuah konspirasi untuk memuluskan satu atau dua golonga agar berkuasa di negeri ini dengan menggencet satu pihak dan memoles di pihak lain. Konspirasi yang penulis maksud bisa jadi antara partai dan partai, partai dengan media atau partai dengan kelompok yang kemudian membeli media. Atau media itu itu sendiri karena yang memiliki partai.

Tidak “haram” kok konspirasi yang dilakukan itu, karena apapaun gerakan yang ada di negeri ini terbukti sangat dilindungi oleh undang-undang. Hanya saja penulis khawatir langkah konspirasi itu melabrak “kebenaran” yang ada. Pola pelabrakan itu bisa bermacam-macam, mulai dari yang tingkat tinggi berbentuk “pembalikan fakta” (entah lewat lobi-lobi, media, atau pakar, atau tokoh) sampai yang paling kasar yaitu pembunuhan karekater.

Sejarah telah mencatat, bagaimana seorang senator mampu menggulingkan kaisar yang berkuasa (ingat sejarah Brutus) atau konspirasi barat yang selalu menghalalkan aksinya (walau harus membunuh) dan mengharamkan langkah musuh-musuhnya (meski hanya dengan tidak mengakui hasil pemilu). Dari sejarah itu terbukti sosok media yang cukup berperan aktif menjadi alat untuk pembentukan opini. Maka bisa dimaklumi bagaimana gaya Bang Fachri yang menggebu-gebu akan melawan pemberitaan karena sudah (dianggapnya) menyudutkan partai. Yang jelas, konstelasi pembentukan opini (entah dengan cara apapun) dari hari ke hari akan semakin memuncak. Akankah dua celebriti ini (PKS dan Jokowi) adalah buah dari pembentukan opini itu?

Yang perlu dicermati pula adalah (kalau ada) adanya penunggangan dari pihak-pihak yang memanfaatkan keruhnya air untuk mendapatkan simpati rakyat. Pelabrakan model ini memang harus diamati dengan serius karena (kebanyakan) mereka membangun opini lewat tema-tema yang “seakan demokratis”. Dari pemberitaan dan statemen yang ada yang penulis amati selama ini, agaknya kelompok ini kuat di dana dan punya akses cepat di belahan dunia. Gerakan ini bukanlah hal yang aneh sekarang, masih ingat bagaimana Al-Qaeda bisa membumi di Afganistan, karena mereka bisa memanfaatkan momen akibat “penjajahan gaya baru” dari barat. Atau beberapa kelompok fasis di negara Eropa. Maka bisa jadi gerakan inipun akan tumbuh di Indonesia. Atau yang paling mutakhir adalah statemen yang miring dari beberapa senator di Amerika tentang perjalanan HAM dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Tentu sangat disayangkan kalau “dua topnews” ikut tercampur penunggangan itu.

Dengan tidak bermaksud mengkerdilkan PKS dan Jokowi, alangkah baiknya kalau keduanya lebih cerdas dalam menyikapi fenomena ini. Semoga PKS menyadari jika buramnya huma yang sedang ia huni adalah konsekwensi logis dari gerakan “putih” yang ia gembar-gemborkan selama ini. Semoga pula Mas Jokowi arif dalam menyikapi gemerlap yang sedang ia nikmati ini. Bertanyalah, benarkah ini murni karena figur dengan segala kebriliaannya yang dimiliki atau justru figur dan brilian ini dimanfaatkan untuk visi lain?

Huma PKS adalah sebagian kecil dari kamar-kamar besar yang dimiliki negeri ini. yakinkan dalam diri kita, jika toh harus terpaksa dibakar ataukah di bangun lagi huma itu, itu hanyalah sebuah “insiden”, tidak akan terlalu signifikan untuk mampu menghanguskan ataupun mempercantik kokohnya istana yang telah dibangun dengan susah payah ini. Pun juga tawa Jokowi, ternyata hanyalah segelintir dari ribuan tawa yang telah terukir di bumi pertiwi ini. Bisa jadi, tawa itu akan berubah tangis kalau ephouria yang sekarang dipentaskan tidak setulus hati yang sebenarnya.

PKS dan Jokowi adalah fenomena yang harus hadir bukan untuk menggolkan target-target. Alangkah eloknya kalau keduanya jadi energi tambahan untuk menyempurnakan lukisan yang sudah hampir sempurna ini. Huma dan Tawa harus ada di sejarah negeri, bukan untuk seling menyakiti, saling menginjak, apalagi saling menghacurkan. Keduanya adalah “bayi” cantik yang nanti akan menjadi legenda bagi anak cucu kita. Skenariokanlah dengan indah agar tidak menjadi cerita tragedi nantinya.

Tetap semangat untuk PKS, huma itu realitanya masih belum roboh. Segerakan diperbaiki dengan semangat dan niat baik. Yakinlah, masih ada rakyat yang ingin melepas penat di huma itu. Sukses untuk Bang Jokowi, kiprah anda (setidaknya) terpantau harum sampai detik ini. Jaga itu agar tidak menjadi bumerang! Bumerang  bukan saja bagi Abang namun juga bagi bangsa ini. Bersyukurlah PKS dan Mas Joko, walau keduanya bagaikan dua sisi keping mata uang namun sejatinya engkau sedang membangun wacana untuk mendewasakan negeri ini. Maka, sadarkan jatidiri jika semuanya adalah untuk negara tercinta, Indonesia.

Indonesia masih butuh pencerahan yang lebih menggigit lagi, maka jangan tercoreng oleh “atas nama” padahal realitasnya adalah “hanya”. Perjalanan negeri ini harus dibangun dengan “kebaikan” yang sekarang istilah trendnya adalah empat pilar. Tidak ada satu agamapun atau satu kelompokpun yang tidak menerima keempat pilar itu. Yakinlah jika ada yang melawan empat pilar itu “negara pasti hadir”. PKS dan Jokowi sama-sama pecinta empat pilar itu, maka Janganlah terlalu dicabik-cabik PKS padahal hanya gara-gara “genit” atau tertimang-timang Mas Joko yang nantinya (bukan mustahil) akan genit juga dengan yang menimang. Maka tidak perlu ada satu kasus yang menimpa negeri ini harus diberangus seakan seperti bahaya yang laten! Karena Indonesia cukup dewasa dalam menimang masalah untuk menjadi manisnya sejarah bagi cucu kita.

Penulis teringat dengan puisi yang pernah tercipta sebulan yang lalu,

 

SEBEGITUKAH HARI INI

(dari kumpulan puisi : KOSONG)

 

Mengapa hanya melihat hari ini
Sehingga yang kemarin adalah fatamorgana
Besok menyesakkan
Logika apa lagi yang harus diperdebatkan?

Sementara samudera ketenangan sering menenggelamkan prediksi-prediksi
Padahal sesungguhnya hari ini bukanlah batas tuntas torehan-torehan
Padahal yang tersembunyi, lebih dahsyat nilainya di mata peradaban!

Sementara sensitifitas teramat tipis jaraknya dengan yang aneh-aneh
Sementara yang aneh, biang dari kebingungan.

Padahal, ketenangan bukanlah bingung.
Bingung, bukanlah harga mati

Bersama hari ini, hati telah menukik
Setajam lamunan seluas fikir memandang
Tanpa ba bi bu
Karena hati telah tergelayuti tiupan cinta

Maka arif bijaksanalah
Karena, yang tersembunyi tidak akan mau dipaksa untuk muncul
Bersama lingkar kodrat itu, peradaban senantiasa menyambutnya

Sebegitukah?
Ternyata, catatan akan kembali seperti adanya

 

 

Kertonegoro, 27 Juni 2013

 

Penulis adalah :

Pemerhati Sosial dan Guru pada SMP NEGERI 2 JENGGAWAH

Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember

 


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    861434

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner