Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
HKN : MOMEN MENAMBAL NASIONALISME YANG MULAI RETAK!

HKN : MOMEN MENAMBAL NASIONALISME YANG MULAI RETAK!


Akhmad Fauzi*

 

Teramat sayang, sampai hari H di HKN 2013 ini, semangat untuk menggelorakan ruh yang dicanangkan 105 tahun lalu sepertinya berlalu begitu saja. Yah, H-3 sebelum 20 Mei, penulis mulai mengamati apa yang akan diperbuat bangsa ini. H-2 sampai H-1, geliat bangsa ini ternyata masih juga datar-datar saja. Yang menggema justru daging sapi impor dan rekening gendut. Penulis masih berusaha khusnudhon, mungkin ada kejutan dari Jakarta nantinya. Apa yang terjadi, sampai hari H pun nuansa gelora kebangkitan itu tidak bergaung. Benar-benar senyap, sesenyap-senyapnya!

 

---)*(---

 

Menipisnya gelora HKN ini memang bukan sesuatu yang bisa dianggap indikasi kejelekan, tetapi juga jangan dianggap remeh-temeh. Gejolaknya “Musi Rawas”, terbunuh polisi yang menggerebek perjudian, sampai kasus wanita di lingkaran daging sapi impor sebenarnya bisa jadi ukuran kalau negeri ini perlu “pembaharuan energi”, energi tentang merasa memiliki bangsa ini sebagai bangsa yang beradab. kasus yang terjadi sejauh ini memang belum terindikasi kuat sebagai kejahatan sistematis. Tetapi pernahkah terbayang, kalau sajian “kurang segar” ini bisa dilihat jelas oleh umum. Justru bahayanya terletak di sini. Ironi yang diperankan itu sedikit demi sedikit akan menggerus “rasa percaya” di hati rakyat. Kalau itu yang terjadi, tidak mustahil negeri ini akan ditinggal semangat Nasionalismenya.

Nasionalisme hadir karena adanya kepentingan yang sama akan sebuah negara (nation). Negara dibangun atas dasar kesefahaman idiologi. Idiologi berangkat dari akar budaya yang dimiliki negara itu. Betapa rumitnya jalur fondasi ini. Butuh pengorbanan lahir dan batin. Ironisnya, kini, dipelihara oleh penerusnya dengan “setengah hati”.

Mungkin benar apa yang disampaikan buya Syafi’i (Syafi’i Ma’arif), kalau negeri ini sedang berjalan (manjalani) kultur politik kumuh (lihat: www.republika.co). Sebuah sindiran (kalau itu benar) yang cukup menyakitkan, bukan saja bagi rakyat, tetapi juga bagi perjalanan hidup negeri ini. Apa jadinya kalau kekumuhan ini terus merajalela. Siapa yang mampu menghambat? Akankah perlu ada gerakan massa lagi? Sampai kapan rakyat bisa sejenak melepas penatnya setelah “babak belur” pasca reformasi! Sementara di atas sana, di Jakarta, hampir setiap hari menanggapi fenomena ini dengan tersenyum, bahkan ada yang mengambil kesempatan untuk menjadi selebriti dadakan di depan layar kaca, siapapun itu (baik yang di dalam maupun yang di luar kekuasaan). Tragis nian negeri ini.

Bibit-bibit de-nasionalisme sudah mulai terasa, siapapun sudah merasakan ini. Ketika “TIM GARUDA”  harus mengakui keunggulan tim Malaysia, yang menggema bukan isak tangis kita, tapi justru saling berebut kepemimpinan PSSI. Bukan intropeksi untuk perbaikan ke depan, tetapi saling menghujat, ujung-ujungnya adalah “kursi”. Ketika sekelompok orang merasa teraniaya, maka begitu mudahnya kelompok itu balik menganiaya, sementara negara (oleh sebagian pengamat) dikatakan terlambat hadir. Ketika satu kelompok terkena prahara, maka beramai-ramai kelompok lain (meski lewat tangan luar) ikut nimbrung memanfaatkan prahara itu. Ada yang talah berubah di negeri ini.

 

Kembalikan Rasa Nasionalisme!

            Kalau kita melihat film-film kolosal tempo dulu, penuh dipenuhi oleh gaya hidup yang cukup familier. Dengan wajah yang lugu, bertelanjang dada, berjalan apa adanya, dan senantiasa menyapa. Begitu ada yang ingin mengganggu desa atau wilayahnya, tidak segan-segan keluguan itu berubah menjadi singa yang siap menerkam siapapun. Masih adakah suasana itu di hidup kekinian? Jujur saja, teramat jarang hal itu ditemui kini. Fenomena meriahnya pilkades di akhir-akhir ini bisa menjadi ukuran, betapa rasa nasionalisme itu sudah mulai terkikis. Baik atas nama golongan, kepentingan, bisa juga uang!    

            Di sebuah diskusi demokrasi pra reformasi, Gus Dur pernah ditanya moderator tentang rasa nasionalisme. Apa jawaban Beliau? Dengan gaya khasnya, sang maestro demokrasi ini meraba dadanya dan... “Alhamdulillah”. Yah, hanya itu jawabnya. Berapa banyak orang di masa Orde Baru yang begitu mudahnya masuk buih hanya karena terasa tidak segaris. Dan pembuihan itupun dengan dasar “tidak nasionalis” (yang dibungkus istilah subversif).

Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa Nasionalisme negeri ini sudah terbukti mengalami fluktuasi. Dan setiap kali fluktuasi ini mencapai titik nadir, pasti terjadi perubahan orde? Berapa yang harus dibayar dengan perubahan itu, mahal kan? Betapa Abstraknya rasa ini, tapi betapa hebatnya daya yang dikandungnya.

            Penulis tidak menafikan kalau sebenarnya uraian ini sudah cukup terfahami oleh siapapun yang ada di setiap “tokoh”  di negeri ini. Mereka cukup faham akan hal ini. Tapi sungguh, mengapa mereka seakan melihat ini sebagai sesuatu yang biasa. Apakah takut kalau rasa nasionalisme ini bergelora akan memberangus kelompoknya? Apakah takut, kalau mengobarkan rasa ini akan hilang konstituennya? Apakah takut, kalau menanamkan rasa ini dianggap melanggar HAM, tidak demokratis? Padahal sepemahaman penulis, dengan nasionalisme inilah semua carut marut dan ketidaksefahaman negeri ini bisa disatukan. Dengan ruh nasionalisme inilah menu hidangan apapun dapat disajikan di satu meja, yang bernama Indonesia.

 

Memulai Lewat Pendidikan Karakter Bangsa

            Di akhir Tahun 2012, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melaunching penambahan muatan kurikulum dengan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bangsa. Harapan beliau nantinya di setiap matapelajaran nuansa Karakter Bangsa bisa tersampaikan. Apakah sudah jalan? Sepemahaman penulis sebagai pendidik, muatan ini sudah tersampaikan meski intensitasnya masih rendah. Anehnya, belum sepenuhnya greget ini berjalan di tataran bawah, kini muncul lagi perubahan kurikulum. Lantas bagaimana? Belum bisa ada yang menjawabnnya kecuali hanya penjelasan akan  adanya perubahan kurikulum.

            Terlepas dari adanya perubahan kurikulum ini, yang pasti nilai pendidikan karakter bangsa sudah terfikirkan. Persoalannya adalah, pelaku “pengrusakan” nilai-nilai bangsa ini bukanlah siswa, tetapi generasi yang sudah lepas dari bangku sekolah. Apakah berarti akan kita biarkan dulu bangsa ini berjalan apa adanya seperti sekarang, sembari menunggu hasil didikan 15-20 tahun lagi? Tentu tidak logis jika seperti itu skenarionya. Tentu kurang bijak kalau bangsa ini mendisain perubahan karakter bangsa sesederhana itu.

Tentu diperlukan “potong kompas” agar keterpurukan (baik nilai-nilai maupun materi) segera teratasi. Maka tidak ada pilihan lain kecuali memaksakan Pendidikan Karakter Bangsa ini di semua lini dan semua bidang. Bagi yang berada di ruang birokrasi, perlu ada kepastian aturan untuk memaknakan karakter bangsa ini di setiap gerak birokrasinya. Bagi yang di luar birokrasipun (kalangan swasta, media, organisasi sosial kemasyarakatan, partai, dan lain-lain ) perlu ada pemahaman yang terus menerus tentang pentingnya nilai ini dalam keseharian mereka. Begitu juga yang merasa berseberangan atau merasa terpinggirkan, yakinkan kalau negeri ini butuh karakter untuk menguatkan rasa nasionalisme ini.

            Bagaimana caranya? Perlu adanya gebrakan untuk berani memulai dari semua elemen bangsa. Gebrakan yang harus berani menanggalkan atribut yang dimiliki, gebrakan untuk membeli sesuatu meskipun mahal harganya yang harus diyakini sangat diperlukan negeri ini, yaitu Karakter Bangsa. Sehingga diharapkan ada pembaharuan dan perbaikan budaya dalam pola hidup dan kehidupan bangsa ini, oleh siapapun. Sehingga ada rasa malu kalau salah dan gegap gempita apabila itu baik untuk bangsa. Tumbuh lagi nuansa kebersamaan, rasa saling memiliki, saling percaya, saling menghormati dan menghargai, dan saling menjaga martabat diri. Yang  semua itu dibungkus dalam wadah besar negara bangsa Indonesia.

 

Penutup

            Sungguh amat elok kalau di HKN tahun ini (yang seharusnya) ada yang berinisiatif untuk “mengumpulkan tokoh” dalam satu momen, kemudian ikrar diri yang diakhiri dengan salam sayang. Atau re-duplikasi di 1908 lalu untuk menampung ikrar semua elemen sebagai wujud masih adanya rasa kebangkitan nasional itu (nasionalisme). Tapi apa lacur, Hari Kebangkitan itu berlalu tanpa ada yang berinisiatif apapun, kecuali berstatemen  paling banter melakukan upacara. Suatu geliat yang nuansa gregetnya teramat kecil.

Semoga masih ada ingatan di fikir bangsa ini kalau awal kebangkitan di 105 tahun silam warna nasionlisme adalah ruhnya. Berangkat dari ruh itulah potret proklamasi tergambar jelas dalam semangatnya. Proklamasi akan kemerdekaan, proklamasi akan hidup layak, proklamasi akan bergerak, proklamasi akan kepastian. Proklamasi untuk meniti peradaban negara bangsa yang beradab, dengan nama Indonesia. Semua itu berawal dari Ruh Nasionalisme, yang kini mulai ada tanda-tanda retak!

Sungguh, masih teramat besar keinginan dan harapan akan gelora nasionalisme ini menggema lagi. Biarlah di HKN ini semua masih berlalu seperti biasa, senantiasa ceremoni dan seadanya asal sesegera mungkin ada yang menjamah agar retak itu tidak semakin menganga. Entahlah.

 

Kertonegoro, 21 Mei 2013

 

Penulis adalah :

Guru SMP NEGERI 2 JENGGAWAH

Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember

Web : bermututigaputri.guru-indonesia.net

Follow di @FAUZI_AKH

 

 


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (62)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (60)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (55)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (53)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (46)

Pengunjung

    297360

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

G+

website health widge

Worth for bermututigaputri.guru-indonesia.net

Link Partner