Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
NASKAH DRAMA : DIALOG SETENGAH JALAN

Naskah Drama Remaja

DIALOG SETENGAH JALAN


akhmad fauzi

 

PARA PEMAIN :

  1. Wanita Malang          : Erma Pertiwi
  2. Narator                      : Risa Ulin N.
  3. Sang Dialog                : Iis Khusnul Kh.
  4. Bidadari                     :
    1. Qurrota A’yun Dina Afni
    2. Okik Permatasari
    3. Yushinta L.
    4. Pemegang Lentera    :
      1. Agus Murod A.
      2. Laelatul Mahmudah
      3. Sepasang Remaja      :
        1. Dimas Satriawan
        2. Nurrika Sari

MUSIK : LAGU-1 “RIVER DEEP MOUNTAIN”

SEBUAH TAMAN DENGAN LAMPU BULAT DIMANA ADA BEBERAPA BANGKU YANG NAMPAK KOSONG. BULAN REDUP. SEKELEBAT SOSOK KELUAR MASUK PANGGUNG PANGGUNG.

LAMPU BERKEDIP-KEDIP DIDOMINASI WARNA KELAM, TIBA-TIBA GELAP. KELUAR DUA BUAH LENTERA SALING BERSEBERANGAN.

Cerita yang semestinya agung. Dari arah yang tidak mampu tertembus mata. Tersisa anasir yang membiaskan warna-warna. Ada yang masih bersimpuh!

Dialog setengah jalan, bersamanya nilai-nilai terkubur. Menggelayuti titian masa, tanpa pernah ada yang mengakui kalau sebenarnya ada. Walau hati kecilnya pun teriak “ya”. Dialog setengah jalan terselip dalam simpuhnya.

Maka berdatangan geliat nada, mengulurkan tangan, menyembul sedikit cibir: “anda terlambat, anasir itu berlaku ketika pagi masih perawan. Ketika polusi begitu wajar, KETIKA RASAMU teryakini dalam relungnya. Sayang, jalan ini masih setengah lagi”

Dilepasnya pelan-pelan untaian dialog itu, ditata satu persatu kata demi kata, tertuju pada satu frase “apa yang telah engkau janjikan”. Sayu dia. Dikumpulkannya tenaga yang tersisa memberanikan untuk menatap langit.

WANITA MALANG :

“Aku punya ini!.... di sini..!”  

WANITA MALANG :

“antara yakin dan tidak engkau yakini, ...... aku punya, aku punya, aku punya ini, yang tak sempat aku janjikan, di sini..”

“Waktu yang terlalu cepat berputar, dinasti yang begitu ringan berganti, hati yang terbiasa tidak meyakini, ........ Aku Punya ini!”

 

MUSIK : LAGU-2 “RIVER DEEP MOUNTAIN”

Dialog setengah jalan menembus awan, melintas waktu dan ruang. Bebas lepas menyisir setiap aktifitas. Terus melanglang.

Tangan kecil kotor dekil itu menyempatkan untuk melambaikan tangan meski wajah tak kuasa mengintipnya. Sejenak kemudian, terdengar tawa kemenangan membahana.....

WANITA MALANG :

“aku sudah memiliki apa yang akan aku janjikan, dulu, waktu demi waktu aku siapkan untuk memenuhi apa yang mungkin termintakan. Pergilah engkau dialog, akan aku simpan segebok rasa ini bersama kemenangan yang sudah aku rasakan. Kemenangan yang aku sadari saat awal rasa ini ada, bahwa bisikan hati tidak perlu diharagai oleh simbol-simbol. Bahwa bisikan hati adalah fitrah yang tidak mungkin terjamah angka-angka. Karena bisikan hati memang harus bersembunyi, terpingitkan oleh naluri, menanti saat untuk terakui”.

Langit gerimis, tubuh kecil itu menarik lambainnya, menata kembali frase yang tertinggal, ia remas sekuat tenaga yang ia miliki.

WANITA MALANG :

“Dialogku, mari kita telusuri yang setengah jalan lagi meski telah senja, toh pagi juga akan datang, meski tidak sesempurna pagi yang lalu.....”

    

MUSIK : LAGU-3 “ENNIO MORICONE - OVERTURE”

MASUK BIDADARI (3 ORANG) MENARI BERAYUN-AYUN MENGELILINGI SOSOK YANG BERSIMPUH

LAMPU TERANG DI TENGAH PANGGUNG

MASUK SEPASANG REMAJA

 

WANITA MALANG :

(BERANJAK DARI BERSIMPUHNYA, MENAHAN KELELAHAN, BERDIRI) “Kemana engkau dialogku...”

MUSIK : LAGU-3 “ENNIO MORICONE - OVERTURE”

WANITA MALANG :

“Kemana Dialogku, Yang kemarin aku genggam. Di mana? Aku cari di bawah sadarku, kosong! Aku cari di antara kegelisahan, ......kosong! Aku cari di langit-langit perasaanku, .......hilang!! ohhh....”

WANITA MALANG :

“Lari lagi engkau dialog. Mengapa tidak mau sabar menanti  sejenak waktu, mengapa begitu mudahnya bermain petak umpet? Mengapa tidak duduk manis saja di sampingku sambil mendengar timang-timangku? Mengapa!!?”

BIDADARI MENDEKAT

WANITA MALANG :

“Mengapa keterulang kembali terjadi? Padahal aku sudah bisa meyakinkan bidadari-bidadari itu. Engkau Harus mendengar seloroh pimpinan bidadari”

BIDADARI :

“Maaf, aku kira engkau hanya membual!”..................................... “Derajatku tidak Setinggi keteguhanmu makhluk malang. Akan aku kabarkan keteguhan ini untuk penghuni langit!”

WANITA MALANG :

“Tahukah Engkau dialog?!, kurcaci itu mencium jidat ketulusanku sembari meneteskan mata air”

 

LAMPU BENDERANG

MUSIK : LAGU-4  “GIPSY KING - INSPIRATION”

SEPASANG REMAJA BERPAMITAN MENCIUM KENING WANITA MALANG ITU, DI IRINGI BIDADARI

Sisa dialog setengah jalan, melayang layang. Entah kemana. Akh, Sebenarnya dialog ini adalah sejati,  yang meraung-raung di antara bisingan diri. Bukan hal mudah menyesuaikan rajutan dialog itu. Belum pernah ada upaya penyesuaian itu? Maka, belum saatnya penyesuaian berujung penyelesaian. Maka Jangan ada kibaran bendera putih,..... jangan lagi hadir kurcaci-kurcaci, karena dialog itu........ akan kembali.....

LAMPU PADAM

“Sekarang aku di sini, dialog. Di tengah sawah di antara dua belantara. Di tengah kelapangan di antara rimbunnya kegalauan, di arena semilir inspirasi di tengah carutnya sangka-sangka, bernuansakan hijau berbataskan kegelapan. Semilir meninabobokkanku.

Jauh di atas awan, sayup terdengar :

BIDADARI :

“terima kasih atas idenya, engkau beri aku separuh......, sementara tanganmu tak pernah serius erat menggenggam”.

LAMPU TERANG

WANITA MALANG :

“Akhh, engkau dialoqku, rupanya di sini engkau. Mendekatlah, terlalu sayup suaramu terdengar. Lihat tubuh ini, apakah ada tanda-tanda aku duduk manis di belakang meja? Lihat kerut wajah ini, berapa kali harus menghalau kegamagngan, agar aku bisa meletakkan imajinasi di sini, di tengah sawah di antara dua belantara?”

WANITA MALANG :

“Akhiri kontradiksi yang senantiasa engkau ciptakan, jangan bersembunyi dibalik chemistry selebrasi watakmu. Aku tidak dalam memerintah, tetapi aku memohon. Memohon demi bawah sadarmu yang jelas berkata lain, memohon demi masa depan kesejatian relung. Aku memohon atas nama di atas ketulusan”. (MENENGADAH SAMBIL MENCARI SANG DIAOLOG)

 

MUSIK : LAGU-5  “INSTRUMENTALIA DOAKU”

LAMPU REMANG-REMANG

TERLIHAT BEBERAPA SOSOK MEMASUKI PANGGUNG


SANG DIALOG :

“Sungguh indah menjadi Putri Salju, ....engkau telah meletakkan derajat itu dengan di kelilingi kurcaci-kurcaci manis. Terlalu tinggi engkau meletakkan ini pada ku...”

LAMPU BERKEDIP-KEDIP DIDOMINASI WARNA BIRU

Hening, sayup....., polah alam menampakkan diri membangkitkan gairah tersembunyi. desah dialog itu yang tidak lagi di atas awan, tapi lima  jengkal langkah di samping kanan belakang  si wanita malang. Bersimpuh ia.....

WANITA MALANG :

“jangan engkau mendekat, tetaplah di lima jengkal itu, biarkan aku tata hati, aku berlatih menggenggam, aku ambil energi kepastian. Jangan engkau mendekat, biarkan aku yang akan menoleh. Terlalu agung aku kalau engkau harus mendekat, sudah letak derajatku, aku harus menoleh. Bersiaplah dengan senyum yang perawan dulu, hadirkan, meski harus engkau buat-buat. Karena tidak ada yang bisa mengakhiri hidup ini selain apa yang dimiliki diri sendiri. Asal, jangan engkau berani membuat-buat apa yang engkau yakini ada dan benar..!!!”

SANG DIALOG :

“Apa yang sedang engkau imajinasikan orang malang? Mengapa aku engkau biarkan di lima jengkal langkahmu, ...............bolehkah aku permisi untuk melanjutkan perjalananku?”

Sosok malang itu tak kuasa bereaksi dengan ucapan sang dialog. Menghujam tatapnya di antara jari-jari kaki yang entah berapa kuat ia lakukan.

SANG DIALOG :

“Bemimpilah orang malang? Aku akan.....”

LAMPU BENDERANG

WANITA MALANG :

“Jangan tinggalkan aku lagi, walaupun hanya begini kita!!!”

Dua tiga tetes air menimpa remasan tangan wanita malang ini, menghilang, di sela-sela jemari kecil .............

SANG DIALOG :

“Tuhan menuntaskan cerita hidup seseorang lima puluh tahun sebelum orang itu hadir di bumi. Tuhan menutup semua perubahan taqdir, kecuali dengan do’a. Tuhan menghargai upaya, bukan daya.Tuhan bersama miliaran cerita yang pernah dibuat mahkluk-Nya. Sementara aku adalah hamba yang bertahta hanya dalam hitungan detik waktu. Berkerajaan selembar daun nista, yang hanya mampu bercerita tidak kurang satu dua kata. Penuh ketidak pastian dan tanda tanya

 

LAMPU PADAM

MUSIK : SUARA ANGIN BERHEMBUS

Kembali, dialog itu pergi,..... dalam kondisi sedih atau ..... sinis!! Ohhh......wanita malang itu.....

LAMPU BERGANTI TEMARAM BERWARNA BIRU

MUSIK : LAGU-6  “THE SHADOWS – NIGHT IN WHITE SATIN”

 

- T A M A T -

 

Kertonegoro, 10 Desember 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    888640

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner