Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah
KISAH GURU PEDALAMAN

Guru di Daerah Pedalaman

akhmad fauzi

Hal yang paling berharga menjadi guru di daerah pedalaman adalah waktu berkumpul bersama keluarga. Karena mereka memiliki sedikit waktu untuk itu, demi menjalankan tugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini sedikit cerita seorang guru di daerah pedalaman bernama Alimus yang pernah saya lihat secara langsung, sekitar dua tahun lalu.

Kerinduan Aleksa Hagai (3) kepada Alimus, sang ayah, tertuntaskan pada Sabtu sore, setelah tidak bertemu selama satu bulan. Dalam dekapan sang ayah, kedua tangan Hagai melingkar erat di leher Alimus.

Ketika Hagai diturunkan dari dekapan Alimus, bocah kecil itu berlari menuju ke dalam rumah. Tak berapa lama, Hagai keluar sembari membawa sesuatu di tangannya. “Lihat pak, lukisan aku,” ujar Hagai bangga sembari menunjukkan goresan tangannya kepada sang ayah.

Alimus meraih lukisan pada selembar kertas tersebut. Memperhatikan sebentar, dan berujar bagus kepada anaknya. Setelah mengembalikan lukisan kepada Hagai. Tangan kanannya mengusap lembut kepala bocah tersebut.

Rindu antara anak dan ayah tersebut bukanlah akhir. Karena dua hari berikutnya, Alimus harus kembali lagi ke tempat tugasnya mengajar. Yang berarti pula suatu penantian selama sebulan bagi Hagai, untuk dapat menghabiskan waktu bercengkrama bersama ayahnya.

****

Setelah menyelesaikan pendidikan pada 1991. Alimus mulai menjalankan tugas sebagai pendidik pada 1993 sebagai guru bantu. Pada 2000, Alimus diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil sebagai guru. Perguliran waktu pun menjadikannya sebagai guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Nyawan.

Profesi Alimus sebagai guru di SDN 10 Nyawan, Kuala Behe. Menuntut dirinya terpisah dengan keluarga. Istri dan ketiga anaknya berada di Kampung Lalang, Hilir Tengah, sedangkan dirinya menetap di tempat tugas.

Alimus bertutur bahwa resiko tersebut harus ditempuhnya, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk memboyong serta keluarga mengikuti dirinya. Bagi Alimus terlalu banyak pengorbanan yang dilakukan keluarga bagi profesinya tersebut.

Lelaki berkaca mata minus itu pun tak ingin anak-anaknya mendapatkan fasilitas minim dalam mengenyam bangku pendidikan, bila berada bersama dirinya. Seperti yang dialami oleh peserta didik daerah pedalaman lainnya.

Alimus bercerita bila tenaga pengajar (guru) di tempatnya bekerja hanya berjumlah dua orang saja. Masing-masing guru tersebut menjadi wali untuk tiga kelas. Dengan kondisi seperti itu, mereka (guru) mengajar dengan cara estafet setiap kelasnya. Dengan mata pelajaran yang berbeda-beda.

Alimus sendiri menjadi wali kelas untuk kelas 2, 4 dan 6. Terkadang hal tersebut membuat Alimus dan rekannya kelimpungan. Mereka harus menyiasati waktu dan banyak-banyak membuka buku pelajaran lagi.

Mereka pun harus menguasai 9 bidang studi yang diajarkan di tingkat SD. Agar materi yang ada di dalam buku paket dapat disampaikan dan diterima oleh para peserta didik.

Guru Honor Sudah Tidak Aktif

Guru honor di daerah pedalaman membuat Alimus dan rekannya dapat sedikit bernafas lega. Karena dengan adanya guru honor tersebut, bidang studi yang diajarkan kepada murid dapat dibagi. Sehingga tidak membuat ia ‘kelimpungan’.

Akan tetapi itu hanya untuk sementara. Guru honor di sekolahnya sudah tidak aktif lagi. Alasan yang menyebabkan guru honor tersebut berhenti menurut Alimus adalah mulai tidak lancarnya gaji yang diberikan kepada mereka.

Padahal, kehidupan para guru di daerah pedalaman sangat berkekurangan. Untuk mengambil gaji saja mereka harus merogoh kocek lebih dalam. Karena biaya perjalanan yang harus dikeluarkan sangat mahal.

Alimus memberitahu untuk menuju lokasi mengajar saja dirinya harus menempuh perjalanan darat dengan jarak sekitar 40 kilometer. Kalau kondisi jalan bagus dan mulus tidak jadi masalah. Tetapi kondisi yang ada, jalanan masih jalan tanah sehingga berdebu. Bila hari hujan, jalanan pun menjadi becek. Ongkos ojek saja sebesar 60 ribu Rupiah.

Setelah menempuh jalan darat, perjalanan di sambung dengan mengarungi sungai dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Biaya yang harus dikeluarkan untuk itu adalah 10 ribu Rupiah.

Bagi para guru yang sudah tetap, hal itu mungkin tidak menjadi masalah. Karena mereka mendapatkan tunjangan daerah pedalaman, meskipun terkadang masih ngadat keluarnya. Akan tetapi bagi para guru honor, biaya tersebut sangat memberatkan mereka. Karena gaji yang mereka dapatkan pun tidak seberapa.

Mengajar Dalam Dua Bahasa

Tidak selamanya pelajaran Bahasa Indonesia itu mudah. Yang hanya perlu mengetahui Subyek Predikat Obyek Keterangan (SPOK) dalam sebuah kalimat. Buktinya, hingga ke tingkat Perguruan Tinggi pun Bahasa Indonesia tetap menjadi salah satu mata kuliah dasar yang harus ditempuh oleh para mahasiswa.

Apalagi bagi para murid SD, yang dalam kesehariannya lebih kental menggunakan Bahasa Ibu dibandingkan Bahasa Indonesia. Hal itu diakui oleh Alimus. Ketika dirinya mengajar, memerlukan penyampaian dalam dua bahasa. Bahasa Indonesia dan Bahasa Ibu di daerah tersebut. Agar materi pelajaran dapat disampaikan dengan baik dan benar sehingga mudah dipahami.

Alimus menceritakan pengalamannya ketika memberikan soal kepada para murid menggunakan Bahasa Indonesia. Dengan soal yang harus dicari sama tetapi dengan mengubah sedikit kalimat saja para murid ada yang tidak mengerti. “Setelah diberitahu dengan menggunakan Bahasa Ibu, mereka baru mengerti,” ujarnya.

Beruntung bagi Alimus yang memang berasal dari daerah tersebut, sehingga ketika mengajar menggunakan dua bahasa. Dirinya tidak menemukan kesulitan sama sekali. “Karenanya yang menjadi guru di pedalaman haruslah putera daerah sendiri,” ujarnya. Sehingga tanggung jawab sebagai pendidik di daerah pedalaman dapat ditunaikan dengan baik.

Selain itu, Alimus mengatakan bahwa tantangan berat dalam menjalankan tugas sebagai pendidik di daerah pedalaman adalah minimnya fasilitas tempat tinggal guru. “Kondisi yang ada di lapangan sangat memprihatinkan,” ujarnya. Dimana tempat tinggal bagi guru yang tersisa hanya tiang rumah saja.

Melihat kondisi tersebut, lanjut Alimus, masyarakat setempat berswadaya membangun tempat tinggal bagi para guru. Akan tetapi tidak bertahan lama, karena menggunakan bahan bangunan terbatas dan tenaga yang kurang terampil. Sehingga atap tempat tinggal guru saat ini ditemukan ada yang bocor.

Kurangnya Perhatian Orang Tua Terhadap Pendidikan

Pendidikan untuk anak bagi sebagian orang tua selalu bertumpu pada institusi pendidikan saja. Padahal, sukses tidaknya pendidikan juga membutuhkan dukungan dari orang tua dan lingkungan.

Alimus mengatakan masyarakat setempat kebanyakan seperti menyerahkan sepenuhnya sang anak untuk menerima pendidikan di sekolah saja. Akan tetapi ketika berada di rumah, sang anak tidak disuruh untuk membuka buku pelajaran kembali.

Akibatnya pun sangat besar bagi prestasi para murid itu sendiri. Mereka akhirnya tidak memahami materi pelajaran dan lamban dalam menguasai materi tersebut. Untuk mengatasi hal itu, ujar Alimus, orang tua harus bisa meng-support sang anak agar mau belajar sendiri di rumah.

Bagaimana pun juga, lanjut Alimus, dukungan penuh para orang tua sangat dibutuhkan. Karena menerima pendidikan hanya di sekolah tidak menjamin sang anak menguasai bidang studi yang diajarkan. “Apalagi guru yang ada hanya dua orang,” ujarnya. Yang hanya memiliki latar belakang untuk satu bidang studi saja.

Bagi Alimus, dengan mengajar para murid di SDN 10 Nyawan, dirinya juga harus belajar kembali. Untuk menguasai materi yang disampaikan kepada para murid. “Semua buku paket bidang studi yang diajarkan harus dibaca kembali sebelum mengajar,” ujarnya. Bahkan harus membandingkan kembali materi pelajaran dari beberapa penerbit yang ada.

Televisi Berdampak Negatif Bagi Anak

Satu-satunya hiburan yang bisa dinikmati oleh masyarakat di daerah pedalaman adalah Televisi. Meskipun suplai aliran listrik yang masuk ke daerah sangat minim. Masyarakat pun mengakalinya dengan menggunakan Generator sebagai tumpuan sumber energinya.

Pengaruh siaran televisi tidak hanya melanda anak-anak yang tinggal didaerah perkotaan saja. Siaran televisi bukanlah barang yang mewah, sehingga masyarakat yang tinggal didaerah pedalaman sekalipun bisa menikmati siaran televisi.

Menurut Alimus, “karena maraknya siaran televisi, membuat siswa menjadi malas belajar”. Kondisi ini semakin diperparah dengan kurangnya perhatian dari para orang tua siswa dalam mengawasi anak-anak mereka. Padahal orang tua adalah guru pertama bagi anak-anak. Sehingga apapun alasannya orang tua harus bisa mengarahkan anak-anak mereka.

Maraknya berbagai tayangan yang menarik di televisi membuat minat belajar siswa menjadi rendah. Disisi lain dampak siaran televisi tidak hanya membuat siswa menjadi malas belajar, melainkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dilema yang terjadi ditengah masyarakat, dengan semakin maraknya berbagai tayangan televisi membuat pola hidup dan cara hidup (life style). Para siswa mulai mengabaikan aturan dan norma yang berlaku dimasyarakat. Mereka tidak hanya menonton, akan tetapi mereka juga langsung mengadopsi tanpa memperhatikan dampak negatif dari siaran televisi itu sendiri.

Dampak paling besar dan sangat ditakutkan saat ini adalah dengan semakin terkikisnya budaya bangsa yang selama ini menjadi patokan dalam kehidupan bermasyarakat. Yang berarti pula dapat menghilangkan citra budaya yang melekat di dalam keseharian masyarakat.

Alimus mengatakan bahwa batasan-batasan menonton Televisi kepada sang anak perlu dilakukan sedini mungkin. Baginya, batasan-batasan ini akan menghambat pergaulan bebas yang kerap terjadi di usia remaja.

Kini, tergantung bagaimana sikap dari orang tua dalam mengambil langkah terhadap berbagai dilema yang menjadi penyakit masyarakat. Karena peran orang tua adalah kontrol dan mengawasi setiap gerak-gerik anak mereka.

 

Sumber :
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/02/05/guru-di-daerah-pedalaman/

 

Kertonegoro, 30 Nopember 2012


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    888648

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner