Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah

Arsip Tanggal 30 June 2013

WAH! ADA YANG BERUBAH DARI IWAN FALS

WAH, ADA YANG BERUBAH DARI IWAN FALS Akhmad Fauzi*   Aku tak mau terlibat segala macam tipuan Aku tak mau terlibat segala omong kosong Aku mau wajar-wajar saja, Aku mau apa adanya Aku tak mau mengingkari hati nurani   Aku tak mau persekutuan manipulasi Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan Aku mau jujur-jujur saja, bicara apa adanya Aku tak mau mengingkari hati nurani   Hio, hio, hio Hio, hio, hio Ohh....ohh...ohh... Ohh....ohh...ohh...        *Mulane dulur.....Ayo di jogo        Omongane ..... lan kelakuane   Aku tak mau bicara yang aku sendiri tidak Aku tak mau mengerti kenapa orang saling mencaci Aku mau sederhana, mau baik-baik saja Aku tak mau mengingkari hati nurani   Aku tak mau kehilangan akal sehat di fikiranku Aku tak mau menyaksikan ada orang yang dihinakan Aku hanya tahu bahwa orang hidup agar jangan mengingkari hati nurani   Hio, hio, hio Hio, hio, hio Ohh....ohh...ohh... Ohh....ohh...ohh...   Aku mau wajar-wajar saja, aku mau apa adanya Aku mau jujur-jujur saja, bicara apa adanya Aku mau sederhana, mau baik-baik saja Aku hanya tahu bahwa orang hidup aga jangaan mengingkari hati nurani   Hio, hio, hio Hio, hio, hio Ohh....ohh...ohh... Ohh....ohh...ohh..   Aku tak mau mengingkari hati nurani...... ..................   Ending yang cukup sempurna untuk menutup konsernya ini. yah, Iwan Fals, sang ikon “penggugat kemapanan” yang tahun ‘90an menjadi trend bagi anak muda (utamanya mahasiswa), seakan ingin menggugah kegarangan yang lama tak menyentuh nurani penggemarnya (utamanya Jember). Sebuah konser yang bisa menjadi barometer keistiqomahan pembongkar ini untuk ditunjukkan eksistensinya di wacana fikir anak bangsa. Konser (yang meskipun ditindihi produk kopi) yang lama terindukan bagi publik. Konser yang seharusnya ajeg untuk mengugah kegarangan anak muda agar kembali peduli akan geliat permasalahan sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Yang sekarang, kegarangan itu (sepertinya) tumpul termakan oleh hingar-bingarnya nilai hedonistik dan konsumtif di keseharian anak muda (utamanya) mahasiswaya! Penulis teringat dosen penulis yang begitu getol dengan dunia sastra, I.C. Sudjarwadi, begini pesannya : “Jika anda mulai layu rasa kepekaan akan sekitar diri, menghilanglah sejenak untuk bercumbu dengan syair-syair Iwan Fals, Ebiet G.Ade, Bimbo, atau Rhoma Irama”. Begitu kira-kira pesan beliau untuk penulis dan mahasiswa lain. Sebuah nilai ajakan yang tidak terlalu sulit dilakukan. Representasi pengakuan beliau akan keempatnya (dan tentunya bukan hanya empat itu) dari sisi keagungan isi dan konsistensi akan “kejelian pemusik dalam membidik fenomena sosial”. Benar juga, banyak ulasan dari kritikus musik di negeri ini yang sama sekali tidak meragukan jika keempat musikus itu keberpihakannya akan kririk sosial masih cukup bisa diandalkan. Banyak faktor memang mengapa keempatnya bisa tumbuh sebegitu konsistennya dalam menyuarakan “penggugatan” akan fenomena yang ada. Disamping ruh penggugatan itu memang sudah mendarah-daging bagi mereka, tetapi bisa jadi nuansa kekalutan sosial politik (kehidupan demokrasi saat itu) telah mendidiknya untuk semakin membakar kekritisan dalam diri. Mereka dibesarkan ketika demokrasi dalam kondisi terkontrol penuh. Mereka lahir ketika keterinjakan hak begitu mudah mereka saksikan seukuran hidup mereka. Mereka teramat kenyang mengkonsumsi ketidak-mapanan. Akhirnya, mereka lahir dengan taring kekritisan yang tak lagi takut dengan senapan penguasa, saat itu! Adakah itu sekarang di jiwa mereka? Setidaknya konser malam masih ada sisa-sisa kegarangan. Yah, konser Iwan Fals malam itu masih menyisakan rasa pembongkaran yang dulu dikejar-kejar oleh mereka yang mampu membeli kebijakan. Setidaknya, OI (komunitas fans beliau, singkatan dari Orang Indonesia) masih bisa menyatukan stamina pendobrakan itu, walau hanya kurang dari tiga jam. Hentakan hits-hits beliau yang dulu menjadi momok penguasa masih bisa menyentuh nurani pengagumnya. Celetukan yang kadang kala “nakal” sebegitu lugasnya keluar. Namun, Konser malam itu, diakui atau tidak, memang ada yang mulai hilang di sang maestro “kesumbangan sosial” ini. Lho kok...? Bagi yang menyaksikan konser malam itu akan merasakan betapa Bang Iwan mulai tumbuh kesantunan gerak dan ucap di atas panggung. Lebih dari itu beliau sudah mulai mengkolaborasikan kekritisannya dengan ruh bahasa samawi. Entah karena usia atau memang kebaikan dari perubahan itu, penulis merasakan ada “cahaya pencerahan” dalam konsernya malam itu yang tidak penulis temukan di puluhan tahun sebelumnya. Asal tahu saja, penulis termasuk bisa dikatakan OI “gaek”, yang sudah puluhan tahun senantiasa memutar “umar bakrie” sebagai pelepas penat aktifitas keseharian. Apakah ini sebuah perubahan yang dinamis dan positif? Sulit memang untuk di ukur, namun setidaknya ada yang berubah dalam kekritisan diri penulis juga. Kalau dulu, setiap kali habis melihat konser Bang Iwan, tangan penulis selalu terkepal-kepal dengan fikir yang menghentak-hentak mencari tikus-tikus perusak kemapanan! Gemeretak geraham penulis menyisir gestur sang maestro mendamprat “oknum-oknum” pejabat. Masih meradang hati terngiang kata “bongkar, bongkar,....bongkar!!!” Namun tidak dengan malam itu, senyum penulis begitu murah melebar sembari menggendong si bungsu yang sempoyongan karena mengantuk. Fikir penulis semakin bisa melihat betapa sintalnya sang istri dan cerianya kedua anak penulis lainya selesai meyaksikan konser yang terasa teduh itu. Kedongkolan yang biasa penulis bawa pasca konser dulu, sekarang lenyap dengan artistiknya sang maestro dalam menghipnotis penonton lewat kepiawaan seni. Yah, kepiawaan seni yang dibumbuhi konsistensi dengan sedikit perubahan untuk menyentuh bahasa langit dan bahasa kemanusiaan Ternyata suatu kolaborasi orkestra yang apik dalam hati pengagumnya. Mampu menghembuskan keteduhan untuk berdampingan dengan “greget” kekritisan dalam benak kita. Malam itu, konser Iwan ditutup dengan manisnya lewat lagu “HIO”. Dengarkan apa pengantar beliau sebelum menyanyikan lagu ini : “Hio, sebuah lagi yang dinamis, untuk mempertanyakan semangat, meminta kebaikan.....”. sebuah pernyataan teduh dengan tetap tidak menghilangkan kehebatan isi lagu itu akan “kebejatan” nilai hidup, yang sekarangpun semakin terpental-pental ke mana-mana. Yah....., Iwan Fals yang telah berubah dengan tidak menjual jatidirinya. Dan itu ternyata bisa! Bagaimana kita.....??? Gus Dur mampu “memanggil” rasa pluralnya lewat musik klasik. Mampukah Jokowi melahirkan kekuatan rock untuk meneduhkan pengagumnya yang sekarang begitu getol menggadang-gadangnya. Atau bisakah “musik padang pasir” meredupkan terpental-pentalnya partai X, agar menjadi energi dahsyat di 2014? Atau, ini yang penting, bisakah kita memadukan hiruk-pikuknya konstelasi kehidupan berbangsa negeri ini untuk menjadi orkestra yang rancak, untuk mengiringi geliat bangsa mengantarkan peradaban yang lebih sempurna? Karena, bagaimanapun semua adalah anak bangsa. Mengapa tidak sedikit menyontek sang maestro ini agar mau sedikit mencampur “muak” ini dengan ramuan bahasa samawi dan nilai kemanusiaan? Toh Bang Iwan sudah sukses mengkolaborasi itu!!! Entahlah...   *foto diambil dari : m.merdeka.com  Kertonegoro, 30 Juni 2013   Penulis adalah : Pemerhati Sosial dan Praktisi Pendidikan Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember ...

0 Komentar

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    848482

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner

Komentar Terbaru