Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah

Arsip Tanggal 26 June 2013

MENGHILANGLAH

MENGHILANGLAH   Akhmad Fauzi     Engkau, pejantanku! Yang pernah mengais bersama, kerikil-kerikil Di seukuran usia, di suatu waktu. Kata terindah adalah ketika fikir kita membisik “Kita adalah sahabat”   Baru detik lalu suara kecil terkekeh-kekeh Hilang! Sayang, Kini semakin menghilang bersama senyum Tuhan Yang menyapa hidup   Tuntas sudah kesejatian langkah Rampung tertutup rapat catatan diri Terbawa malaikat-malaikat suci Menunggu giliran keadilan Sang Penghitung!   Aku, di sini Tanpa air mata, menyapa dengan do’a Teryakini sepenuhnya, engkau Sedang bercanda dengan bidadari   Menghilanglah, Toh kefanaan jua adanya Engkau tetap pejantanku Dengan senyum khas tak terlupakan Sepanjang dua kehidupan!   (Selamat tinggal sejawat, hadir mu adalah keharusan dalam catatan diri ini. Jangan sayu, karena engkau telah berhasil memegang keimanan seorang hamba)   Selamat berpisah, @haris kusmawan, Berpulanglah......   Kertonegoro, 26 Juni 2013 Salam,       ...

0 Komentar
GELAGAT YANG SELALU TERPAJANG DI ILC (TVONE)

GELAGAT  YANG SELALU TERPAJANG DI ILC (TVONE) Akhmad Fauzi*              “Bang Karni, inilah yang aku sukai dengan acara ini. Ingat lho, di ruang ini kurang dari 100 orang, tapi kita sedang di tonton 100 jutaan rakyat Indonesia”. Itulah kira-kira basa-basi yang selalu keluar dari “Bang Poltak” setiap kali diberi kesempatan bicara. Bahkan sekarang ditambahi lagi dengan ucapan : “ILC ini salah satu acara yang selalu ditonton Bapak Presiden, SBY....”.                Yah, siapa yang tidak mengenal acara ini. Disamping aktual dan membuminya tema yang dibicarakan, kayaknya reputasi Karni Ilyas mampu memberikan janji jika acara ini cukup berbobot. Namun, tahukah kita kalau ada beberapa hal yang selalu terpajang setiap kali talkshow ini menyapa permirsa yang kadang menggeramkan atau menggemaskan atau menggelikan. Bahkan ada yang sudah (sepertinya) menjadi ikon acara ini. Apa itu ? 1.      SENYAPNYA MENJAWAB SALAM Kalau tidak salah sudah lima kali penulis mengamati kejanggalan ini. Awalnya penulis kira kebetulan saja, namun setiap kali ada yang salam (assalamu’alaikum wr. wb.), maka ruangan mewah itu membisu beberapa detik. Gestur masing-masing peserta talkshow pun tak luput dari pelototan penulis. Apa yang terjadi? Begitu salam terucap, maka senyap, dan gestur masing-masing orang,  (terkesan oleh penulis) acuh....!!! Penulis tidak ingin mengedepankan dari mana asal salam itu dan biasanya dipakai oleh agama apa. Perhatian penulis lebih ditekankan pada etika. Jika kesenyapan itu terjadi di dusun penulis maka prediksinya ada dua, yaitu “teracuhnya” yang mengucapkan atau umpatan yang terjadi. Jawaban salam ini (hukumnya) memang hanya wajib kifayah, tapi nilai kekompakan menjawab adalah nilai etika. Kalau etika yang dilihat, berarti dapat di ukur kualitas budayanya. Tapi, tegakah kita mengkategorikan “beliau” yang hadir di ballroom hotel berbintang itu (budayanya) dalam kualitas yang (maaf) lebih rendah dari warga dusun saya....? Ah, mungkin saja ini salah. Semoga saja beliau yang terhormat itu sudah menjawabnya dalam hati setiap kali salam itu diperkenankan oleh Tuhan untuk menyentuh gendang telinga yang mendengar! Tetapi, Kalau duga penulis ini benar, wah betapa ironis sekali. Lha wong konten yang dibicarakan begitu “agung”, lha kok menyempatkan menjawab salam saja begitu enggan (kalau tidak boleh dikatakan angkuh). Catatan dari penulis, bahwa sewaktu awal-awal talkshow ini hadir menyapa pemirsa, gemuruh jawab salam masih bisa didengar oleh pemirsa di rumah. Entahlah ... 2.      SEAKAN KETERBUKAAN MILK MINORITAS Mungkinkah ini yang menjadi salah satu sebab jika menjawab salam itu begitu mahal? Sehingga menjawab salam berarti tidak mengikuti trend sekarang, yaitu “keterbukaan”. Yah, keterbukaan seakan menjadi “isme” baru dalam komunitas talkshow ini. Maklum saja, sampai tulisan ini dibuat arti keterbukaan mengalami  kooptasi seakan-akan milik minoritas. Kalau minoritas berarti selalu ada yang teraniaya, yang tentunya harus dibela mati-matian. Maka muncullah pembela-pembela dari berbagai strata. Maka, ini yang lagi ngetrend, pasti “sang pembela” itu akan laku laris manis ditentang-tenteng oleh media. Maka, dapat diprediksi “suaranya” akan selalu laku terjual! Padahal sepemahaman penulis, ketika jagad ini memasuki trans-informasi, logika minoritas dengan segala lebel “seakan” teraniaya itu sejatinya sudah usang. Mengapa? Karena “pendekar” sejati untuk masa kini adalah “informasi”. Kiranya sudah sering terjelaskan di beberapa tulisan kalau siapa yang memegang informasi itulah pemenangnya. Masih ingat nasib Iraq kan? Atau penjara Guantanamo? Apa yang terinformasikan di sana? Semua mulus tersiar seperti pesanan sang pemilik informasi! Ah, teramat panjang kalau tema ini terjabarkan. Yang pasti, tepuk tangan yang berbau keterbukaan telah dikotomikan dengan sukses dalam (yang menurut penulis) forum intelektif aktual itu! Entahlah...    3.      MINORITAS-MAYORITAS         Inilah tema yang selalu hadir dalam talkshow ini. minoritas-mayoritas ini bisa dalam ranah agama, bisa juga dalam ranah penguasa dan oposisi, bisa juga pada kaya dan miskin. Padahal, kebenaran tidak pernah terdidik untuk hinggap “hanya” di salah satu sisi saja. Padahal Penulis meyakini, talkshow inilah yang nilai penguakan akan kebenaran cukup menggigit. Jadi, akhiri saja dua istilah itu. Peradaban sudah tidak muat untuk harus mencatatnya lagi di lembar selanjutnya. Yang diperlukan sekarang adalah penguakan kebenaran berdasarkan fakta dan aturan yang ada. Dan itu nuansanya adalah pencerahan untuk publik! 4.      BUNGA DAN WANITA Sebuah pemandangan yang khas dari acara ini. Bunga terselip manis di sudut kiri atas jas atau blues yang harganya bisa jadi satu kali gaji penulis sebagai guru. Di sudut sudut meja agak belakang, ada kalanya satu dua wanita yang duduk dengan santai (bahkan kadang ada yang sedikit “berani”) sedang serius menyimak panasnya perdebatan. Benar-benar piawai tim kreatif acara ini, mungkin konsep Bang Sutan (baca: ngeri-ngeri sedap) memang menarik untuk diterapkan. Karena dengan bunga dan wanita, perdebatan yang sering “ngeri” itu sesekali terasa “sedap” memang. Konten yang penulis bidik adalah jelinya pembuat acara ini dalam mengemasnya. Bukan “ngeresnya” wanita yang terselip bunga itu. Entahlah..... 5.      MEMPERMAINKAN BLACKBERRY Gelagat inipun tidak luput dari lirikan penulis setiap kali talkshow ini tayang. Yang terbayang di benak penulis adalah, “wah... hebat benar beliau itu. Pasti beliau sedang share dengan kolegenya dan tentunya sang kolega itu seorang yang ahli juga”. Kemudian baru melebar membayangkan berapa harga BB beliau, pastinya mahal.          Yah, pantaslah beliau menggenggam BB semahal itu. Maklum, mobilitas beliau cukup tinggi karena peran yang sedang beliau sandang. Hanya pesan penulis, jangan terlalu sering dan tertampakkan. Tidak elok dilihat dari jauh, apalagi saat ada yang berbicara. Penulis takut akan dicontoh lebih-lebih oleh siswa didik penulis sendiri nantinya. Gestur yang sederhana tetapi cukup dalam filosofi etikanya. Entahlah... 6.      GENITNYA BANG KARNI Pantas sekali pemandu acara ini mendapat panasonic award. Kepiawaannya dalam mengatur irama diskusi memberikan warna tersendiri dengan acara ini. intonasi yang datar tetapi menggigit, keberpihakan pada kebenaran yang berdasar, kedalaman intelegensi sampai pada penguasaan psikologi massa mampu menempatkan acara ini untuk layak di tonton, walau sekaliber presiden sekalipun. Selamat Bang, segerakan engkau turunkan ilmu dan kepiawaan itu kepada yang masih belum beruban. Do’a penulis semoga Bang Karni tetap sehat, energik, dan panjang umur. Tentu akan bergairah negeri ini kalau ada Ilyas-ilyas muda. Jangan sampai tangan Tuhan mendahului menjemput, ya Bang. Tetap semangat!!!                 ILC salah satu tayangan yang patut kita syukuri bisa hadhir di dunia pertelevisian kita. Tidak ada salahnya kalau penulis berharap ada yang bisa menyaingi. Biar tidak ada minoritas mayoritas, biar tidak ada “hanya” bunga dan wanita, biar semakin terkuak di permukaan pertiwi ini wacana-wacana atas nama kebenaran. Kebenaran yang tidak berasal dari opini “agar” benar. Kebenaran yang bukan dipaksa karena ada pesanan. Kebenaran yang benar-benar berangkat dari hati untuk selalu menumbuhkan energi positif bagi bahan bakar negeri ini. Yang sekarang terkuras habis oleh kekalutan “atas nama.....” Entahlah... Kertonegoro, 26 Juni 2013 Penulis adalah : Pemerhati sosial dan praktisi pendidikan Yang tinggal di sebuah dusun yang bernama Kertonegoro     ...

0 Komentar
TERNYATA HANYA BEGINI HIDUP INI : OBROLAN SORE

OBROLAN SORE : TERNYATA HANYA BEGINI HIDUP INI Akhmad Fauzi (hikmah dari persidangan “bagi-bagi daging”) Sebenarnya hati ini sudah disiapkan untuk tidak terkejut, toh setiap har ...

0 Komentar

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    861433

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner