Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah

Arsip Bulan July 2013

NASKAH DRAMA : PLENO KABINET LEBARAN

“PLENO KABINET LEBARAN” Akhmad Fauzi*   Pelaku              : 1.      Profesor Lebaran (Prof. L) 2.      Mbak Biskuit (M. Bis) 3.      Tuan Taraweh (T. Tara) 4.      Nyonya Daging Sapi (N. DS) 5.      Mbah tepung (Mbah) 6.      Adi Sajadah (Di Saja) 7.      Adi Koko (Adi Koko) 8.      Den Tiket Wisata (TW) 9.      Setan Petaka (SP) 10.   Mat Solar (MS) 11.  Sekretaris Pribadi 12.  8 pengawal pribadi 13.  Sang Narator (SN)   Lampu                        : Terang seperti lampu kristal layaknya Musik             : Keroncongan sesekali kashidah    Setting     : Di suatu tempat pada suatu waktu, dalam sebuah majelis tinggi di komunitas tanpa nama. Ruang semacam ruang lobi, kursi empuk melingkari sebuah meja antik berkilau. Tiap sudut penuh dengan pot bunga pojok nan hijau. Tampak enam petugas kekar berpakaian resmi membatu berkacamat ryben. Entah berapa lama ruangan itu dipenuhi sosok-sosok. Sebagian besar sudah belingsatan hampir tidak bisa menanggalkan sabarnya lagi. Sementara sang pemimpin sidang, Prof. Lebaran, sibuk mempermainkan BB-nya, call sana call sini, dengan muka naturalnya : berkerut, sedikit mengernyit sembari mempermainkan bollpoin bermerk kesayangannya. Tak jarang mata tertuju ke pergelangan tangan menatap serius jam (juga bermerk kayaknya) sesekali dicocokkan dengan jam kuno di seberang arah.   Kegelisahan sang profesor semakin memuncak ketika satu dua peserta rapat  hilir mudik, kadang keluar ruang. Sedetik kemudian terdengar ketokan palu, terkesan kalau yang mengetok ingin menampakkan apa yang sedang dirasakan. Dengan sedikit menghela nafas dilanjutkan melirik kiri kanan depan, tanpa senyum, keluar kata pertamanya, “Mohon perhatian, rasanya tidak perlu lagi menunggu dia. Mari kita mulai rapat ini...” (sedikit tersedak menahan jengkel, rasanya)   Peserta terdiam, banyak yang menunduk. Entah ketakutan, entah ikut juga jengkel. Yang pasti tidak ada ekspresi untuk ingin tertawa. Sebuah bukti kewibawaan pemilik suara itu.   Prof.  L : “Assalamu’alaikum Wr. Wb....”   Peserta Rapat : “Waalaikum salam Wr. Wb......” (serempak dengan suara di indahkan)   Prof.  L : “Maaf, kita sudah terlambat 15 menit dari rencana rapat hari ini. semoga dia bisa mengemukakan alasan keterlambatan ini nantinya. Tolong sekretaris sidang mencatat keterlambatan ini”.   Adi Koko : “Maaf pimpinan sidang, kayaknya kok terlalu besar sih kesalahan dia. Bukankah situasi ini bisa dicairkan dengan maaf saja?” (sedikit ketakutan)   Prof.  L : “Saudara Adi Koko, ini harus jadi masalah prinsip. Heeehhh...! Mobil yang saudara pakai itu dibelikan rakyat, kita di sini untuk kepentingan rakyat. Mohon jangan berlagak seakan rakyat tidak tahu...! Sudah...... sudah, Itu urusan saya nanti, fokus saja kalian ke urusan yang kalian tangani. Saya ingin hasil rapat ini menjadi senyum di bibir mereka...menghadapi hari H Lebaran itu!”   Nampak kewibawaan bicara profesor ini terasa dibungkus antara marah dan gelisah. Semua peserta seakan berlomba menciptakan suasana yang diinginkan pemimpin sidang. Senyap, serius, fokus.....   Prof.  L : “Baik, terima kasih. Mari kita mulai rapat ini. (menghela nafas dalam dalam, kemudaian melanjutkan) Hari ini adalah pleno kita yang terakhir sebelum hari H lebaran nanti. Dari catatan saya dan juga masukan staf saya, nampak sudah ada perbaikan dibanding sebelum pleno yang ke tujuh kemarin lusa. Mohon hambatan yang ada di pleno hari ini sesegera mungkin ditangani. Prinsipnya, saya tidak ingin hari H nanti suara sumbang bermunculan di akun saya, baik di tweet maupun di FB. Sekaligus saya ingatkan, tidak ada cuti untuk mudik, semua dalam kondisi kerja tanpa batas waktu. Apakah bisa dimengerti apa yang saya katakan ini.....??”   Peserta Pleno : “Siaaaapppp...!!!”   Prof.  L : “Silahkan Mbah, untuk mengawali rapat ini. Anda diberi kesempatan untuk menyampaikan kesiapannya...”   Mbah : (menata tempat duduk, ia hirup nafas sedalam kemampuannya) “Terima kasih pimpinan! Saya berharap kepada teman-teman untuk tidak terlalu euphoria. Tahanlah sedikit, sabar. Maklum, biasanya di hari-hari seperti ini stok saya sudah harus menipis di gudang. Juragan gendut saya empat hari ini sering keluar keringat dingin. Menyeka air di sekitar matanya, entah keringat atau berkaca-kaca. Yang jelas, tidak sehebat dulu, bagaimana para bankir berdatangan berebut  merayunya untuk ambil pinjaman. Tolong hentikan euphoria yang ada, apalagi.................”   Kalimat itu terpotong oleh ulah sekpri Prof. L yang berbisik serius. Hampir semua peserta mengalihkan perhatian ke adegan bisik-bisik serius itu. Tampak Prof. L menggelengkan kepala dan melotot seraya memberikan isyarat ke sekpri untuk segera keluar. Keluarlah sekpri itu dengan penuh keyakinan.   Prof. L : “Yak, silahkan mbah, bisa dilanjut. Maaf untuk semua ada gangguan sedikit tadi. mari fokus lagi...”   T. Tara : “Maaf pimpinan sidang, sebaiknya pimpinan berkenan menyampaikan ke sidang ada apa tadi, biar kami tidak ikut larut untuk menduga-duga. Maaf pimpinan..” M. Bis : “Iya Pimpinan, sebaiknya demikian, saya juga semakin gemigil. Mana nasib saya semakin suram, lebih-lebih dengan begitu suramnya laporan Mbah Tepung tadi. Sampaikan saja pimpinan, biar rapat ini plong suasananya...” (timpal mbak Biskuit rada semangat, hampir semua mengangguk-angguk, mungkin tanda setuju dengan M. Bis ini)     Prof. L : “sudah... sudah, itu urusan saya, sekali lagi itu urusan saya..!!” (sambut Prof. L setengah teriak sambil menepuk dadanya)   Semua terdiam, tak ada lagi yang berani menimpali, apalagi mimik Prof. L lain dari pada biasanya. Tampak wibawanya selama ini sedikit demi sedikit terkikis, entah oleh marah atau galau, entah.   Lain lagi dengan ekspresi SP yang sedari awal tampak begitu ceria, sesekali senyum tersungging. Apalagi yang ia rasakan, padahal tidak ada sedikitpun yang harus membuat suasana sidang ini untuk tersenyum. Entahlah.   Prof. L : “Silahkan Mbah....”   Mbah : “Tidak saja di gudang teman-teman saya yang masih menumpuk, di warung-warung kecil bahkan warung musiman pun, banyak yang masih utuh tak tersentuh...” (terdiam menunduk)   Semua terdiam, banyak yang menunduk. Seakan ikut merasakan getirnya suasana hati Mbah Tepung ini. Ada yang angkat tangan ingin bicara, rupanya SP.   SP : “Boleh saya menyela sejenak pimpinan...?”   Prof. L : “Ya silahkan, asal berkaitan dengan yang dikatakan mbah”   SP : “Itu yang akan saya sampaikan...”   Prof. L : “Silahkan....”   SP : “Mbah, nggak perlu segalau itu lah, ini adalah konsekwensi pasar, kan? Dari pada sewot begitu, mendingan ikutan euphoria. Toh Lebaran tidak tahun ini saja, tahun depan masih ada, repot amat sih.....” (dengan mimik khasnya, jelalatan cuek)   T. Tara : “Wah...., ndak bisa begitu anda SP. Mbah termasuk rasional, punya kepekaan sosial yang tinggi. Lagian, bisa kita lihat sekarang, berapa shaf yang hilang di setiap masjid dan surau-surau gara-gara euphoria kita”. (sergah Tuan Taraweh tak ...

0 Komentar
GILA AKAN KONTROVERSI

GILA AKAN KONTROVERSI

0 Komentar
TUHAN MENEGUR cinta-KU

TUHAN MENEGUR cinta-KU Tuhan menegurku, ketika ditinggal cinta Tanpa merasa bersalah Dipersimpangan ketidakpastian dan halusinasi sesaat Menggiring cerita tak bertuan, tanpa akhir Tuhan menegur, ketika cinta digantung Tanpa jawab kepastian, walau hanya sebua frase Dipeliknya duga-duga, ketika termakan rindu Menenggelamkan logika yang ada Tuhan, sedang menegurkah Engkau Ketika cinta dikembalikan lagi ke bilik yang pernah aku asah Sebelum cinta itu menghujam yang punya rasa Jangan Tegur cintaku, Tuhan Ketika ia telah hilang selenyapnya tanpa menyisakan Kesempatan hidup lagi yang akan memperparah lamunan Membuka luka! Tuhan, Engkau menegur cintaku Ketika Engkau ambil semua piranti Untuk bisa merasakan cinta, tanpa menyisakan Sedikitpun untuk tumbuh lagi Tuhan, Engkau menegurku? Menegur cintaku? Mengapa? Ketika cinta begitu bisa aku rasa suci dan mulianya ………………………….. Tuhan, tegurlah aku Menegur cintaku Ketika cinta hanyalah semu …&hel ...

0 Komentar
DARI TV ONE SAMPAI LAPOR MABES POLRI

DARI TV ONE SAMPAI LAPOR MABES POLRI akhmad fauzi 13740340201580604069 Dalam sebuah artikel diulas tentang blowup TV ONE yang kebablasan dalam menayangkan kasus mutilasi, wajarkah? Ada lagi Ikatan Wartawan Online yang ngluruk ke mabes POLRI melaporkan Menteri ESDM, wajarkah? Intinya, saya merasa risih juga dengan pergerakan sosio-kultural yang menggejala ini. Dari sisi euphoria demokrasi mungkin tidak terlalu aneh, tetapi dari sisi keberpihakan fikir akan nilai kebenaran, ini yang memang perlu terus menerus ditanamkan di sela-sela euphoria itu. Indikasi yang cukup kentara adalah mudahnya semua elemen tersulut hatinya ketika menghadapi gejala sosial yang menimpa mereka. Ketersulutan itu w ...

0 Komentar
SULITNYA MEMBANGUN KEPERCAYAAN (ADA APA PAK J. WACIK?)

SULITNYA MEMBANGUN KEPERCAYAAN (ADA APA PAK J. WACIK?) 0 Komentar

1 2 3 4

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    830232

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner