Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah

Arsip Bulan June 2013

WAH! ADA YANG BERUBAH DARI IWAN FALS

WAH, ADA YANG BERUBAH DARI IWAN FALS Akhmad Fauzi*   Aku tak mau terlibat segala macam tipuan Aku tak mau terlibat segala omong kosong Aku mau wajar-wajar saja, Aku mau apa adanya Aku tak mau mengingkari hati nurani   Aku tak mau persekutuan manipulasi Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan Aku mau jujur-jujur saja, bicara apa adanya Aku tak mau mengingkari hati nurani   Hio, hio, hio Hio, hio, hio Ohh....ohh...ohh... Ohh....ohh...ohh...        *Mulane dulur.....Ayo di jogo        Omongane ..... lan kelakuane   Aku tak mau bicara yang aku sendiri tidak Aku tak mau mengerti kenapa orang saling mencaci Aku mau sederhana, mau baik-baik saja Aku tak mau mengingkari hati nurani   Aku tak mau kehilangan akal sehat di fikiranku Aku tak mau menyaksikan ada orang yang dihinakan Aku hanya tahu bahwa orang hidup agar jangan mengingkari hati nurani   Hio, hio, hio Hio, hio, hio Ohh....ohh...ohh... Ohh....ohh...ohh...   Aku mau wajar-wajar saja, aku mau apa adanya Aku mau jujur-jujur saja, bicara apa adanya Aku mau sederhana, mau baik-baik saja Aku hanya tahu bahwa orang hidup aga jangaan mengingkari hati nurani   Hio, hio, hio Hio, hio, hio Ohh....ohh...ohh... Ohh....ohh...ohh..   Aku tak mau mengingkari hati nurani...... ..................   Ending yang cukup sempurna untuk menutup konsernya ini. yah, Iwan Fals, sang ikon “penggugat kemapanan” yang tahun ‘90an menjadi trend bagi anak muda (utamanya mahasiswa), seakan ingin menggugah kegarangan yang lama tak menyentuh nurani penggemarnya (utamanya Jember). Sebuah konser yang bisa menjadi barometer keistiqomahan pembongkar ini untuk ditunjukkan eksistensinya di wacana fikir anak bangsa. Konser (yang meskipun ditindihi produk kopi) yang lama terindukan bagi publik. Konser yang seharusnya ajeg untuk mengugah kegarangan anak muda agar kembali peduli akan geliat permasalahan sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Yang sekarang, kegarangan itu (sepertinya) tumpul termakan oleh hingar-bingarnya nilai hedonistik dan konsumtif di keseharian anak muda (utamanya) mahasiswaya! Penulis teringat dosen penulis yang begitu getol dengan dunia sastra, I.C. Sudjarwadi, begini pesannya : “Jika anda mulai layu rasa kepekaan akan sekitar diri, menghilanglah sejenak untuk bercumbu dengan syair-syair Iwan Fals, Ebiet G.Ade, Bimbo, atau Rhoma Irama”. Begitu kira-kira pesan beliau untuk penulis dan mahasiswa lain. Sebuah nilai ajakan yang tidak terlalu sulit dilakukan. Representasi pengakuan beliau akan keempatnya (dan tentunya bukan hanya empat itu) dari sisi keagungan isi dan konsistensi akan “kejelian pemusik dalam membidik fenomena sosial”. Benar juga, banyak ulasan dari kritikus musik di negeri ini yang sama sekali tidak meragukan jika keempat musikus itu keberpihakannya akan kririk sosial masih cukup bisa diandalkan. Banyak faktor memang mengapa keempatnya bisa tumbuh sebegitu konsistennya dalam menyuarakan “penggugatan” akan fenomena yang ada. Disamping ruh penggugatan itu memang sudah mendarah-daging bagi mereka, tetapi bisa jadi nuansa kekalutan sosial politik (kehidupan demokrasi saat itu) telah mendidiknya untuk semakin membakar kekritisan dalam diri. Mereka dibesarkan ketika demokrasi dalam kondisi terkontrol penuh. Mereka lahir ketika keterinjakan hak begitu mudah mereka saksikan seukuran hidup mereka. Mereka teramat kenyang mengkonsumsi ketidak-mapanan. Akhirnya, mereka lahir dengan taring kekritisan yang tak lagi takut dengan senapan penguasa, saat itu! Adakah itu sekarang di jiwa mereka? Setidaknya konser malam masih ada sisa-sisa kegarangan. Yah, konser Iwan Fals malam itu masih menyisakan rasa pembongkaran yang dulu dikejar-kejar oleh mereka yang mampu membeli kebijakan. Setidaknya, OI (komunitas fans beliau, singkatan dari Orang Indonesia) masih bisa menyatukan stamina pendobrakan itu, walau hanya kurang dari tiga jam. Hentakan hits-hits beliau yang dulu menjadi momok penguasa masih bisa menyentuh nurani pengagumnya. Celetukan yang kadang kala “nakal” sebegitu lugasnya keluar. Namun, Konser malam itu, diakui atau tidak, memang ada yang mulai hilang di sang maestro “kesumbangan sosial” ini. Lho kok...? Bagi yang menyaksikan konser malam itu akan merasakan betapa Bang Iwan mulai tumbuh kesantunan gerak dan ucap di atas panggung. Lebih dari itu beliau sudah mulai mengkolaborasikan kekritisannya dengan ruh bahasa samawi. Entah karena usia atau memang kebaikan dari perubahan itu, penulis merasakan ada “cahaya pencerahan” dalam konsernya malam itu yang tidak penulis temukan di puluhan tahun sebelumnya. Asal tahu saja, penulis termasuk bisa dikatakan OI “gaek”, yang sudah puluhan tahun senantiasa memutar “umar bakrie” sebagai pelepas penat aktifitas keseharian. Apakah ini sebuah perubahan yang dinamis dan positif? Sulit memang untuk di ukur, namun setidaknya ada yang berubah dalam kekritisan diri penulis juga. Kalau dulu, setiap kali habis melihat konser Bang Iwan, tangan penulis selalu terkepal-kepal dengan fikir yang menghentak-hentak mencari tikus-tikus perusak kemapanan! Gemeretak geraham penulis menyisir gestur sang maestro mendamprat “oknum-oknum” pejabat. Masih meradang hati terngiang kata “bongkar, bongkar,....bongkar!!!” Namun tidak dengan malam itu, senyum penulis begitu murah melebar sembari menggendong si bungsu yang sempoyongan karena mengantuk. Fikir penulis semakin bisa melihat betapa sintalnya sang istri dan cerianya kedua anak penulis lainya selesai meyaksikan konser yang terasa teduh itu. Kedongkolan yang biasa penulis bawa pasca konser dulu, sekarang lenyap dengan artistiknya sang maestro dalam menghipnotis penonton lewat kepiawaan seni. Yah, kepiawaan seni yang dibumbuhi konsistensi dengan sedikit perubahan untuk menyentuh bahasa langit dan bahasa kemanusiaan Ternyata suatu kolaborasi orkestra yang apik dalam hati pengagumnya. Mampu menghembuskan keteduhan untuk berdampingan dengan “greget” kekritisan dalam benak kita. Malam itu, konser Iwan ditutup dengan manisnya lewat lagu “HIO”. Dengarkan apa pengantar beliau sebelum menyanyikan lagu ini : “Hio, sebuah lagi yang dinamis, untuk mempertanyakan semangat, meminta kebaikan.....”. sebuah pernyataan teduh dengan tetap tidak menghilangkan kehebatan isi lagu itu akan “kebejatan” nilai hidup, yang sekarangpun semakin terpental-pental ke mana-mana. Yah....., Iwan Fals yang telah berubah dengan tidak menjual jatidirinya. Dan itu ternyata bisa! Bagaimana kita.....??? Gus Dur mampu “memanggil” rasa pluralnya lewat musik klasik. Mampukah Jokowi melahirkan kekuatan rock untuk meneduhkan pengagumnya yang sekarang begitu getol menggadang-gadangnya. Atau bisakah “musik padang pasir” meredupkan terpental-pentalnya partai X, agar menjadi energi dahsyat di 2014? Atau, ini yang penting, bisakah kita memadukan hiruk-pikuknya konstelasi kehidupan berbangsa negeri ini untuk menjadi orkestra yang rancak, untuk mengiringi geliat bangsa mengantarkan peradaban yang lebih sempurna? Karena, bagaimanapun semua adalah anak bangsa. Mengapa tidak sedikit menyontek sang maestro ini agar mau sedikit mencampur “muak” ini dengan ramuan bahasa samawi dan nilai kemanusiaan? Toh Bang Iwan sudah sukses mengkolaborasi itu!!! Entahlah...   *foto diambil dari : m.merdeka.com  Kertonegoro, 30 Juni 2013   Penulis adalah : Pemerhati Sosial dan Praktisi Pendidikan Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember ...

0 Komentar
YUK! JALAN-JALAN FIKIR KE SIDOWAYAH-PONOROGO

YUK! JALAN-JALAN "FIKIR" KE SIDOWAYAH-PONOROGO (Kampung –maaf- IDIOT) Akhmad Fauzi*     Yuk, penulis mengundang pembaca untuk ikut jalan-jalan fikir sejenak di dusun yang jauh dari hingar-bingarnya tema-tema, yang terlupakan dari diskusi-diskusi, yang sengaja dihilangkan karena kita telah mencoba untuk menjadi orang yang hilang. Hilang kepekaan, hilang air mata, hilang senyum do’a, hilang kendali jatidiri. Yuk, kalau ada yang bisa, ajak juga kolege-kolege anda yang setiap hari menghiasi media dan wacana fikir massa. Yang menjadi idola untuk dielukan ataupun ditendang-tendang. Salamkan jika mereka (seharusnya) perlu bertandang ke desa yang rimbun ini. Ada tarbiyah di sana, ada catatan kebaikan yang selama ini seolah-olah hana “kita” saja yang baik! Ada gumpalan rasa syukur, yang entah mulai kapan teganya kita titipkan di pinggir-pinggir selokan. Ada tangis yang semestinya mampu menghadang kekejian yang selama ini dengan pongahnya dipertontonkan. SIDOWAYAH, sebuah desa yang masih puluhan kilo meter dari ibukota kabupaten (Ponorogo). Pantas sekali kalau jarang terjamah aliran dana apapun, disamping memang jauh dari pusat kekukasaan terbukti pula wajah desa ini masih tetap kokoh seperti adanya. Jumlah penduduk yang hanya ratusan tua itu semakin menambah greget fikir untuk di kunjungi. Kalau toh masih dalam kunjungan fikir, itu sudah cukup, minimal kita bisa menguji “siapa kita”. Adakah nuansa kehambaan masih melekat dalam jiwa. Lebih dari itu, dikunjungi atau tidak, dengan fikir atau dengan badan, desa ini, yang begitu teduh itu, yang rahmad Tuhan (sebenarnya) sedang berkumpul, adalah desa ini yang tetap ihlas mengibarkan Sang Saka Merah putih, dari dulu sampai kapanpun. Adakah yang masih ragu untuk wisata fikir di desa itu? Adakah yang tidak ingin ikut merasakan bagaimana rasanya hidup dengan separuh dari mereka (yang sudah takdir Tuhan dan maaf) dalam kondisi idiot? Ngerikah fikir kita untuk bercanda dengan yang hampir seratus persen adalah MISKIN itu? Alergikah kulit fikir ini jika harus bersentuhan dengan kerasnya hidup mereka? Semoga tidak muntah dengan bau penderitaan yang mereka alami. Semoga masih teryakini dalam hati kalau do’a mereka sejatinya dirindukan ribuan malaikat! Sudahkan pembaca mengajak kolega-koleganya? Berapa yang sudah sanggup untuk ikut? Tolong pinjamkan mobil kesadaran ke mereka, kalau sudah tergadaikan tidak apalah, truk sampahpun bisa kalian bawa. Siapa tahu dengan niat tulis kita jalan-jalan fikir ini, Allah, Tuhan Yang Maha Esa, akan menyulapnya menjadi baby benz yang milyaran itu! Jangan lupa membawa bekal yang cukup, mulai dari bekal ketulusan sampai (cukuplah) recehan kegalauan yang bisa kita bagikan ke mereka. Karena kegalaun kita adalah tanaman yang rimbun yang setiap musim mereka panen. Yang selalu di hirupnya, ditelannya, bahkan dikeluarkannya lagi. SIDOWAYAH, dusun yang terlukis Tuhan dengan panorama yang indah, menurut riset menjadi (maaf sekali lagi) “kampung idiot” karena salah satunya akibat struktur tanah yang minim garam yudiom tetapi penuh dengan unsur timbal. Gejala alam ini memicu terbelakangnya pertumbuhan sistem kecerdasan penduduknya yang berakhir terbelakang fikir dan mental mereka. Jangan lagi di gugat negara tidak hadir, karena kenyataannya, negara telah mengandeng perguruan tinggi untuk meneliti fenomena keterbelakangan ini. Jangan pula mengkorelasikan karena adanya partai X, golongan Y, atau pemahaman Z, maka dusun ini tertakdirkan semacam itu. Jangan pula belagu anda saja Gubernurnya A, atau ikut golongan B, atau kemarin mencoblos gambar C tentu segera teratasi keprihatinan ini. Tidak....!!! Penulis mengajak pembaca dan yang pembaca bisa ajak adalah untuk mensenyapkan sejenak kegaduhan yang ada di dunia luar mereka. Penulis ingin membuktikan ke semua kalau mereka “sama sekali” tidak terpengaruh dengan koar-koar yang ada. Penulis ingin mengajak berfikir, BENARKAH FIKIR KITA SELAMA INI...??? Yang akhirnya kita bisa sama-sama tertawa kalau ternyata kita memperjuangkan yang sama, dan.... sama sekali hanya kita gaduh dan keluh kesah! Pemerintah lewat pemerintahan desanya (SIDOWAYAH) kini sudah mulai berbenah. Perencanaan telah digambar, alokasi dana telah dijanjikan, target akhir yang ideal sudah bisa diperkirakan. Desa ini harus menjadi prioritas penanganan ini sudah menjadi lirikan pemerintah sampai tingkat pusat (sumber: TVONE, edisi tayang Jum’at, 28 Juni 2013 dalam Kabar Siang). Dengan uraian ini penulis ingin menegaskan kalau pembaca (yang mau ikut) tidak perlu ketakutan kehilangan rekeningnya atau akan mengerutkan dahi untuk rakor-rakor, atau memerah keringat untuk kerja bakti. Sama sekali tidak! Penulis hanya berharap kita jalan-jalan sambil mengusap dada dan menyeka butiran air di mata agar hadir rasa yang sama, kesefahaman, dan kesadaran jika kita tidak ada yang beda. Dengan uraian ini, dan dengan elusan dada tadi, penulis mengajak (utamanya diri penulis sendiri) untuk menuntun laku diri, ucap diri, ego diri, dan sok diri ke ranah yang lebih santun, elegan, cerdas, dan dinamis. Dengan uraian ini pula, penulis tidak akan pernah berharap bisa merubah apapun jua, kecuali diri penulis sendiri dan yang bisa merasakan seperti yang dirasakan penulis. Selebihnya, tetap prediksi-prediksi dan tanda tanya di hati seperti yang pembaca miliki semula apa adanya. Penulis yakin, SIDOWAYAH akan semakin pulas tidurnya paska kita jenguk, walau hanya lewat fikir. Karena SIDOWAYAH bukan anak manja, karena SIDOWAYAH tanpa kitapun tetap SIDOWAYAH. Sebuah desa yang tenang dengan segala rasa nrimo yang melimpah. Sebuah desa yang tidak akan pernah peduli “ada apa di kita”. Iman yang penulis yakini berteriak, “SIDOWAYAH ADA, KARENA UNTUK BEKAL MEMBANGUN RUMAH DI SYURGA. HANYA SAJA, ANDA SEAKAN MERASA SUDAH MEMBANGUNNYA.....” Gambar diambil dari : http://www.kaskus.co.id/thread/5111cb5148ba542646000009/kampung-idiot-di-ponorogo/   Kertonegoro, 28 Juni 2013 ...

0 Komentar
PKS DAN JOKOWI

DIBALIK TERBAKARNYA “HUMA” PKS DAN KILAUAN “TAWA” JOKOWI Akhmad Fauzi*   Entah memang lagi hits-nya atau memang sudah taqdir, dua pekan ini PKS dan Jokowi bisa diibaratkan bagaikan dua sisi  keping mata uang yang sekarang diburu oleh siapapun. Di twitter, FB, media online, media cetak dan elektronik, bahkan di warung-warung kopi, antusiasme untuk membicarakan keduanya ratingnya bisa mengalahkan “Miyabi” atau “Lady Gaga” sekalipun. Bahkan kekalutan kenaikan BBM dengan “lipstik” BLSM pun sepertinya mampu ditenggelamkan oleh tema keduanya. Pantas kiranya jika PKS dan Jokowi dinobatkan sebagai “celebreti” bulan ini. Sebuah orkestra kehidupan yang didambakan sejak dulu, yang tidak akan sempat muncul ketika orde sebelumnya. Bagaimana masing-masing memiliki hak untuk mengemukakan pendapat dan punya kewajiban pula untuk dikritisi.   Anehnya, keburaman yang sedang menggelayuti PKS. Sementara Jokowi begitu “harum” terdengar! Terlepas dari benar tidaknya keburaman dan keharuman itu, penulis melihat adanya korelasi yang kuat antara “bisik-bisik” di akar rumput dengan pemborbadiran berita tentang keduanya baik di media maupun di opini-opini yang ditulis. Entah kebetulan atau tidak, media dan tulisan-tulisa yang ada itu sepertinya menyuarakan kekompakan “ganyang” PKS dan “GO!” Jokowi. Begitu penulis membuat tweet : “PKS tidak jahat kok, hanya sedikit genit, biarlah....” maka luar biasa respon dari tweet itu. Begitu juga ketika di akun penulis tertulis tweet : “Dengan musik rock, Jokowi mampu menjiwai karakter kerakyatannya”. Sungguh luar biasa dahsyatnya imbas pembentukan opini yang telah dibuat media lewat pemberitaannya ini. Jangan-jangan sekarang yang berkuasa bukan SBY tetapi justru malah media-media itu!  PKS yang dalam konferensi persnya mengatakan tidak tersangkut dengan LHI, AF, apalagi “wanita-wanita” terasa cukup berat untuk memutihkan warnanya lagi. Gempitanya Fachri Hamzah meluruskan pemberitaan seakan menguap di tengah jalan! Kalah nyaring dengan suara yang ada. Begitupun dengan upaya sang Presiden baru PKS (Bang Anis Matta) yang road show ke media-media tidak mampu mengupas kerak yang sudah terlanjur menempel di publik, karena masivnya pemberitaan “miring” kasus daging itu. Sebaliknya, hanya dengan cukup tersenyum aroma nafas Jokowi begitu harum terhirup ke mana-mana (dan seakan harus terjaga keharumannya). Hingar-bingarnya Kasus penggusuran akibat relokasi rusun di Jakarta Utara tidak mampu mengkusamkan wajahnya. Kemacetan yang masih terjadi bahkan banjir besar tempo hari justru menjadi energi bagi Jokowi untuk melambungkan citranya, yang konon semakin tersebar isyu RI-1 sedang mengintip sang maniak musik rock ini. Tidak ada yang berbahaya kalau memang demikian realitas kehidupan demokrasi di Indonesia. Tetapi akan berbahaya kalau dua tema ini “sengaja” dibentuk! Letak berbahayanya adalah jika dua fenomena yang berbanding balik itu ada skenario dari sebuah konspirasi untuk memuluskan satu atau dua golonga agar berkuasa di negeri ini dengan menggencet satu pihak dan memoles di pihak lain. Konspirasi yang penulis maksud bisa jadi antara partai dan partai, partai dengan media atau partai dengan kelompok yang kemudian membeli media. Atau media itu itu sendiri karena yang memiliki partai. Tidak “haram” kok konspirasi yang dilakukan itu, karena apapaun gerakan yang ada di negeri ini terbukti sangat dilindungi oleh undang-undang. Hanya saja penulis khawatir langkah konspirasi itu melabrak “kebenaran” yang ada. Pola pelabrakan itu bisa bermacam-macam, mulai dari yang tingkat tinggi berbentuk “pembalikan fakta” (entah lewat lobi-lobi, media, atau pakar, atau tokoh) sampai yang paling kasar yaitu pembunuhan karekater. Sejarah telah mencatat, bagaimana seorang senator mampu menggulingkan kaisar yang berkuasa (ingat sejarah Brutus) atau konspirasi barat yang selalu menghalalkan aksinya (walau harus membunuh) dan mengharamkan langkah musuh-musuhnya (meski hanya dengan tidak mengakui hasil pemilu). Dari sejarah itu terbukti sosok media yang cukup berperan aktif menjadi alat untuk pembentukan opini. Maka bisa dimaklumi bagaimana gaya Bang Fachri yang menggebu-gebu akan melawan pemberitaan karena sudah (dianggapnya) menyudutkan partai. Yang jelas, konstelasi pembentukan opini (entah dengan cara apapun) dari hari ke hari akan semakin memuncak. Akankah dua celebriti ini (PKS dan Jokowi) adalah buah dari pembentukan opini itu? Yang perlu dicermati pula adalah (kalau ada) adanya penunggangan dari pihak-pihak yang memanfaatkan keruhnya air untuk mendapatkan simpati rakyat. Pelabrakan model ini memang harus diamati dengan serius karena (kebanyakan) mereka membangun opini lewat tema-tema yang “seakan demokratis”. Dari pemberitaan dan statemen yang ada yang penulis amati selama ini, agaknya kelompok ini kuat di dana dan punya akses cepat di belahan dunia. Gerakan ini bukanlah hal yang aneh sekarang, masih ingat bagaimana Al-Qaeda bisa membumi di Afganistan, karena mereka bisa memanfaatkan momen akibat “penjajahan gaya baru” dari barat. Atau beberapa kelompok fasis di negara Eropa. Maka bisa jadi gerakan inipun akan tumbuh di Indonesia. Atau yang paling mutakhir adalah statemen yang miring dari beberapa senator di Amerika tentang perjalanan HAM dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Tentu sangat disayangkan kalau “dua topnews” ikut tercampur penunggangan itu. Dengan tidak bermaksud mengkerdilkan PKS dan Jokowi, alangkah baiknya kalau keduanya lebih cerdas dalam menyikapi fenomena ini. Semoga PKS menyadari jika buramnya huma yang sedang ia huni adalah konsekwensi logis dari gerakan “putih” yang ia gembar-gemborkan selama ini. Semoga pula Mas Jokowi arif dalam menyikapi gemerlap yang sedang ia nikmati ini. Bertanyalah, benarkah ini murni karena figur dengan segala kebriliaannya yang dimiliki atau justru figur dan brilian ini dimanfaatkan untuk visi lain? Huma PKS adalah sebagian kecil dari kamar-kamar besar yang dimiliki negeri ini. yakinkan dalam diri kita, jika toh harus terpaksa dibakar ataukah di bangun lagi huma itu, itu hanyalah sebuah “insiden”, tidak akan terlalu signifikan untuk mampu menghanguskan ataupun mempercantik kokohnya istana yang telah dibangun dengan susah payah ini. Pun juga tawa Jokowi, ternyata hanyalah segelintir dari ribuan tawa yang telah terukir di bumi pertiwi ini. Bisa jadi, tawa itu akan berubah tangis kalau ephouria yang sekarang dipentaskan tidak setulus hati yang sebenarnya. PKS dan Jokowi adalah fenomena yang harus hadir bukan untuk menggolkan target-target. Alangkah eloknya kalau keduanya jadi energi tambahan untuk menyempurnakan lukisan yang sudah hampir sempurna ini. Huma dan Tawa harus ada di sejarah negeri, bukan untuk seling menyakiti, saling menginjak, apalagi saling menghacurkan. Keduanya adalah “bayi” cantik yang nanti akan menjadi legenda bagi anak cucu kita. Skenariokanlah dengan indah agar tidak menjadi cerita tragedi nantinya. Tetap semangat untuk PKS, huma itu realitanya masih belum roboh. Segerakan diperbaiki dengan semangat dan niat baik. Yakinlah, masih ada rakyat yang ingin melepas penat di huma itu. Sukses untuk Bang Jokowi, kiprah anda (setidaknya) terpantau harum sampai detik ini. Jaga itu agar tidak menjadi bumerang! Bumerang  bukan saja bagi Abang namun juga bagi bangsa ini. Bersyukurlah PKS dan Mas Joko, walau keduanya bagaikan dua sisi keping mata uang namun sejatinya engkau sedang membangun wacana untuk mendewasakan negeri ini. Maka, sadarkan jatidiri jika semuanya adalah untuk negara tercinta, Indonesia. Indonesia masih butuh pencerahan yang lebih menggigit lagi, maka jangan tercoreng oleh “atas nama” padahal realitasnya adalah “hanya”. Perjalanan negeri ini harus dibangun dengan “kebaikan” yang sekarang istilah trendnya adalah empat pilar. Tidak ada satu agamapun atau satu kelompokpun yang tidak menerima keempat pilar itu. Yakinlah jika ada yang melawan empat pilar itu “negara pasti hadir”. PKS dan Jokowi sama-sama pecinta empat pilar itu, maka Janganlah terlalu dicabik-cabik PKS padahal hanya gara-gara “genit” atau tertimang-timang Mas Joko yang nantinya (bukan mustahil) akan genit juga dengan yang menimang. Maka tidak perlu ada satu kasus yang menimpa negeri ini harus diberangus seakan seperti bahaya yang laten! Karena Indonesia cukup dewasa dalam menimang masalah untuk menjadi manisnya sejarah bagi cucu kita. Penulis teringat dengan puisi yang pernah tercipta sebulan yang lalu,   SEBEGITUKAH HARI INI (dari kumpulan puisi : KOSONG)   Mengapa hanya melihat hari ini Sehingga yang kemarin adalah fatamorgana Besok menyesakkan Logika apa lagi yang harus diperdebatkan? Sementara samudera ketenangan sering menenggelamkan prediksi-prediksi Padahal sesungguhnya hari ini bukanlah batas tuntas torehan-torehan Padahal yang tersembunyi, lebih dahsyat nilainya di mata peradaban! Sementara sensitifitas teramat tipis jaraknya dengan yang aneh-aneh Sementara yang aneh, biang dari kebingungan. Padahal, ketenangan bukanlah bingung. Bingung, bukanlah harga mati Bersama hari ini, hati telah menukik Setajam lamunan seluas fikir memandang Tanpa ba bi bu Karena hati telah tergelayuti tiupan cinta Maka arif bijaksanalah Karena, yang tersembunyi tidak akan mau dipaksa untuk muncul Bersama lingkar kodrat itu, peradaban senantiasa menyambutnya Sebegitukah? Ternyata, catatan akan kembali seperti adanya     Kertonegoro, 27 Juni 2013   Penulis adalah : Pemerhati Sosial dan Guru pada SMP NEGERI 2 JENGGAWAH Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember   ...

0 Komentar
MENGHILANGLAH

MENGHILANGLAH   Akhmad Fauzi     Engkau, pejantanku! Yang pernah mengais bersama, kerikil-kerikil Di seukuran usia, di suatu waktu. Kata terindah adalah ketika fikir kita membisik “Kita adalah sahabat”   Baru detik lalu suara kecil terkekeh-kekeh Hilang! Sayang, Kini semakin menghilang bersama senyum Tuhan Yang menyapa hidup   Tuntas sudah kesejatian langkah Rampung tertutup rapat catatan diri Terbawa malaikat-malaikat suci Menunggu giliran keadilan Sang Penghitung!   Aku, di sini Tanpa air mata, menyapa dengan do’a Teryakini sepenuhnya, engkau Sedang bercanda dengan bidadari   Menghilanglah, Toh kefanaan jua adanya Engkau tetap pejantanku Dengan senyum khas tak terlupakan Sepanjang dua kehidupan!   (Selamat tinggal sejawat, hadir mu adalah keharusan dalam catatan diri ini. Jangan sayu, karena engkau telah berhasil memegang keimanan seorang hamba)   Selamat berpisah, @haris kusmawan, Berpulanglah......   Kertonegoro, 26 Juni 2013 Salam,       ...

0 Komentar
GELAGAT YANG SELALU TERPAJANG DI ILC (TVONE)

GELAGAT  YANG SELALU TERPAJANG DI ILC (TVONE) Akhmad Fauzi*              “Bang Karni, inilah yang aku sukai dengan acara ini. Ingat lho, di ruang ini kurang dari 100 orang, tapi kita sedang di tonton 100 jutaan rakyat Indonesia”. Itulah kira-kira basa-basi yang selalu keluar dari “Bang Poltak” setiap kali diberi kesempatan bicara. Bahkan sekarang ditambahi lagi dengan ucapan : “ILC ini salah satu acara yang selalu ditonton Bapak Presiden, SBY....”.                Yah, siapa yang tidak mengenal acara ini. Disamping aktual dan membuminya tema yang dibicarakan, kayaknya reputasi Karni Ilyas mampu memberikan janji jika acara ini cukup berbobot. Namun, tahukah kita kalau ada beberapa hal yang selalu terpajang setiap kali talkshow ini menyapa permirsa yang kadang menggeramkan atau menggemaskan atau menggelikan. Bahkan ada yang sudah (sepertinya) menjadi ikon acara ini. Apa itu ? 1.      SENYAPNYA MENJAWAB SALAM Kalau tidak salah sudah lima kali penulis mengamati kejanggalan ini. Awalnya penulis kira kebetulan saja, namun setiap kali ada yang salam (assalamu’alaikum wr. wb.), maka ruangan mewah itu membisu beberapa detik. Gestur masing-masing peserta talkshow pun tak luput dari pelototan penulis. Apa yang terjadi? Begitu salam terucap, maka senyap, dan gestur masing-masing orang,  (terkesan oleh penulis) acuh....!!! Penulis tidak ingin mengedepankan dari mana asal salam itu dan biasanya dipakai oleh agama apa. Perhatian penulis lebih ditekankan pada etika. Jika kesenyapan itu terjadi di dusun penulis maka prediksinya ada dua, yaitu “teracuhnya” yang mengucapkan atau umpatan yang terjadi. Jawaban salam ini (hukumnya) memang hanya wajib kifayah, tapi nilai kekompakan menjawab adalah nilai etika. Kalau etika yang dilihat, berarti dapat di ukur kualitas budayanya. Tapi, tegakah kita mengkategorikan “beliau” yang hadir di ballroom hotel berbintang itu (budayanya) dalam kualitas yang (maaf) lebih rendah dari warga dusun saya....? Ah, mungkin saja ini salah. Semoga saja beliau yang terhormat itu sudah menjawabnya dalam hati setiap kali salam itu diperkenankan oleh Tuhan untuk menyentuh gendang telinga yang mendengar! Tetapi, Kalau duga penulis ini benar, wah betapa ironis sekali. Lha wong konten yang dibicarakan begitu “agung”, lha kok menyempatkan menjawab salam saja begitu enggan (kalau tidak boleh dikatakan angkuh). Catatan dari penulis, bahwa sewaktu awal-awal talkshow ini hadir menyapa pemirsa, gemuruh jawab salam masih bisa didengar oleh pemirsa di rumah. Entahlah ... 2.      SEAKAN KETERBUKAAN MILK MINORITAS Mungkinkah ini yang menjadi salah satu sebab jika menjawab salam itu begitu mahal? Sehingga menjawab salam berarti tidak mengikuti trend sekarang, yaitu “keterbukaan”. Yah, keterbukaan seakan menjadi “isme” baru dalam komunitas talkshow ini. Maklum saja, sampai tulisan ini dibuat arti keterbukaan mengalami  kooptasi seakan-akan milik minoritas. Kalau minoritas berarti selalu ada yang teraniaya, yang tentunya harus dibela mati-matian. Maka muncullah pembela-pembela dari berbagai strata. Maka, ini yang lagi ngetrend, pasti “sang pembela” itu akan laku laris manis ditentang-tenteng oleh media. Maka, dapat diprediksi “suaranya” akan selalu laku terjual! Padahal sepemahaman penulis, ketika jagad ini memasuki trans-informasi, logika minoritas dengan segala lebel “seakan” teraniaya itu sejatinya sudah usang. Mengapa? Karena “pendekar” sejati untuk masa kini adalah “informasi”. Kiranya sudah sering terjelaskan di beberapa tulisan kalau siapa yang memegang informasi itulah pemenangnya. Masih ingat nasib Iraq kan? Atau penjara Guantanamo? Apa yang terinformasikan di sana? Semua mulus tersiar seperti pesanan sang pemilik informasi! Ah, teramat panjang kalau tema ini terjabarkan. Yang pasti, tepuk tangan yang berbau keterbukaan telah dikotomikan dengan sukses dalam (yang menurut penulis) forum intelektif aktual itu! Entahlah...    3.      MINORITAS-MAYORITAS         Inilah tema yang selalu hadir dalam talkshow ini. minoritas-mayoritas ini bisa dalam ranah agama, bisa juga dalam ranah penguasa dan oposisi, bisa juga pada kaya dan miskin. Padahal, kebenaran tidak pernah terdidik untuk hinggap “hanya” di salah satu sisi saja. Padahal Penulis meyakini, talkshow inilah yang nilai penguakan akan kebenaran cukup menggigit. Jadi, akhiri saja dua istilah itu. Peradaban sudah tidak muat untuk harus mencatatnya lagi di lembar selanjutnya. Yang diperlukan sekarang adalah penguakan kebenaran berdasarkan fakta dan aturan yang ada. Dan itu nuansanya adalah pencerahan untuk publik! 4.      BUNGA DAN WANITA Sebuah pemandangan yang khas dari acara ini. Bunga terselip manis di sudut kiri atas jas atau blues yang harganya bisa jadi satu kali gaji penulis sebagai guru. Di sudut sudut meja agak belakang, ada kalanya satu dua wanita yang duduk dengan santai (bahkan kadang ada yang sedikit “berani”) sedang serius menyimak panasnya perdebatan. Benar-benar piawai tim kreatif acara ini, mungkin konsep Bang Sutan (baca: ngeri-ngeri sedap) memang menarik untuk diterapkan. Karena dengan bunga dan wanita, perdebatan yang sering “ngeri” itu sesekali terasa “sedap” memang. Konten yang penulis bidik adalah jelinya pembuat acara ini dalam mengemasnya. Bukan “ngeresnya” wanita yang terselip bunga itu. Entahlah..... 5.      MEMPERMAINKAN BLACKBERRY Gelagat inipun tidak luput dari lirikan penulis setiap kali talkshow ini tayang. Yang terbayang di benak penulis adalah, “wah... hebat benar beliau itu. Pasti beliau sedang share dengan kolegenya dan tentunya sang kolega itu seorang yang ahli juga”. Kemudian baru melebar membayangkan berapa harga BB beliau, pastinya mahal.          Yah, pantaslah beliau menggenggam BB semahal itu. Maklum, mobilitas beliau cukup tinggi karena peran yang sedang beliau sandang. Hanya pesan penulis, jangan terlalu sering dan tertampakkan. Tidak elok dilihat dari jauh, apalagi saat ada yang berbicara. Penulis takut akan dicontoh lebih-lebih oleh siswa didik penulis sendiri nantinya. Gestur yang sederhana tetapi cukup dalam filosofi etikanya. Entahlah... 6.      GENITNYA BANG KARNI Pantas sekali pemandu acara ini mendapat panasonic award. Kepiawaannya dalam mengatur irama diskusi memberikan warna tersendiri dengan acara ini. intonasi yang datar tetapi menggigit, keberpihakan pada kebenaran yang berdasar, kedalaman intelegensi sampai pada penguasaan psikologi massa mampu menempatkan acara ini untuk layak di tonton, walau sekaliber presiden sekalipun. Selamat Bang, segerakan engkau turunkan ilmu dan kepiawaan itu kepada yang masih belum beruban. Do’a penulis semoga Bang Karni tetap sehat, energik, dan panjang umur. Tentu akan bergairah negeri ini kalau ada Ilyas-ilyas muda. Jangan sampai tangan Tuhan mendahului menjemput, ya Bang. Tetap semangat!!!                 ILC salah satu tayangan yang patut kita syukuri bisa hadhir di dunia pertelevisian kita. Tidak ada salahnya kalau penulis berharap ada yang bisa menyaingi. Biar tidak ada minoritas mayoritas, biar tidak ada “hanya” bunga dan wanita, biar semakin terkuak di permukaan pertiwi ini wacana-wacana atas nama kebenaran. Kebenaran yang tidak berasal dari opini “agar” benar. Kebenaran yang bukan dipaksa karena ada pesanan. Kebenaran yang benar-benar berangkat dari hati untuk selalu menumbuhkan energi positif bagi bahan bakar negeri ini. Yang sekarang terkuras habis oleh kekalutan “atas nama.....” Entahlah... Kertonegoro, 26 Juni 2013 Penulis adalah : Pemerhati sosial dan praktisi pendidikan Yang tinggal di sebuah dusun yang bernama Kertonegoro     ...

0 Komentar
1 2 3 4 5 6 7

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    830230

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner