Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah

Arsip Bulan June 2013

MUCIKARI INGUSAN...?

MUCIKARI INGUSAN...? akhmad fauzi     Tuhan, Kembali Engkau Tunjukkan khilaf kami lagi. Baru sejenak kami bernafas dari tiga kejadian yang hampir sejenis Engkau pertontonkan lagi   Kalau aku, yang diamanati, yang mengasuhnya Lengah akan uang jajannya. Kalau aku, yang dipercaya membasuk fikirnya Angkuh, hingga terjerembab dalam pelukan yang tidak seharusnya Kalau aku, yang seharusnya teman bermainnya Tidur pulas oeh ego sendiri   Kalau aku, yang telah memilihku, dalam hatinya, pertiwi ini Terlalu sibuk membuat janji-janji!   Senyum yang semestinya ranum di lima sepuluh tahun lagi harus gugur Binar mata perawan itu, gelap mengiringi trauma tak bertepi senyum tipis dengan nafas harum kini semburat tak beraturan arah Terjemput bangkai kenistaan yang sekarang, tertimang zaman!   Tuhan, Indah, Engkau tuliskan ini ketika aku terkoyak-koyak juga   Tersungkur aku tanpa tahu di mana, Yang teryakini tulisan apa lagi yang hendak Engkau buat ...........   Kertonegoro, 13 Juni 2013 ...

0 Komentar
YANG TERTINGGAL

  YANG TERITINGGAL; EDISI "DIALOG SETENGAH JALAN DI INDAHNYA PERAHU KERTAS by AKHMAD FAUZI 0 Colour Pages & 102 B/W Pages Kategori: Kumpulan Cerpen Harga: Rp 35000 SUBLIMITAS TAK TER ...

0 Komentar
MENANGGALKAN JILBAB POLWAN

MENANGGALKAN JILBAB POLWAN Akhmad Fauzi*                 Kurang dari satu bulan anugerah yang diterima Presiden dari sebuah lembaga di New York, tiba-tiba kebijakan penertiban pemakaian jilbab untuk Polwan diberlakukan oleh Kapolri. Meskipun tidak ada kesan kalau kebijakan itu adalah instruksi Presiden, tetapi nuansa pembiasan duga bisa juga ada yang mengarah ke sana. Wakapolri dengan tegas mengatakan kalau kebijakan penertiban seragam polwan ini adalah murni keputusan dan kepentingan internal Polri dan menepis jika harus dikaitkan dengan pelanggaran HAM. Bahkan tanpa kompromi beliau mempersilahkan yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan Polri ini untuk "tidak usah" menjadi Polwan. Ketegasan Wakapolri ini ditanggapi dengan serius oleh Din Syamsudin (Ketua Umum PP Muhammadiyah) yang menurut beliau kebijakan itu sebagai sesuatu yang telah melanggar hak seseorang (MHI MetroTv, edisi Rabu 12 Juni 2013).                 Perlu digaris bawahi bahwa beliau, Din Syamsuddin, adalah salah satu pimpinan tokoh agama dunia yang telah diakui komitmennya untuk mengedepankan pluralisme. Maka tentu apapun yang menjadi statemen beliau tidak bisa dianggap sepele. Sebuah cerita baru lagi yang akan mewarnai pentas negeri ini. Padahal dapat dipastikan dalam sepekan ke depan, bangsa ini akan riuh rendah oleh pro-kontra kenaikan BBM. Bisakah penertiban seragam Polwan dan jajaran PNS yang ada di dalamnya ini diprediksi sebagai pengalihan isyu akan dampak kenaikan BBM? Atau, benarkah Indonesia sedang ingin menunjukkan ke dunia luar jika benar-benar tidak terlalu berpihak ke kanan? Atau, jangan-jangan ini adalah hasil "deal" dari anugerah yang Presiden terima beberapa waktu yang lalu.             Kemungkinan prediksi di atas adalah sah-sah saja, bahkan lebih ekstrim dari itupun bisa, hanya penulis tidak ingin mengutarakannya. Yang jelas, apapun prediksi yang ada, penertiban itu sudah berjalan dan sekarang sedang menunggu reaksi dari elemen bangsa ini (baik yang pro maupun yang kontra). Lebih dari itu, penulis masih ingat benar pesan Presiden SBY kepada semua Kepala Daerah untuk semaksimal mungkin menangani isyu SARA. Karena Presiden menengarai isyu ini masih cukup potensial terjadi di tengah masyarakat. Jelas, tidak sembarang seorang Presiden berbicara sesuatu, pasti karena telah ada data yang valid Apa Yang Harus Dilakukan?             Kebijakan ini mengingatkan kita pada pelarangan jilbab di Prancis, meskipun di negara tersebut tidak terjadi perlawanan yang cukup berarti akan kebijakan itu. Tetapi bagi kita, di negara yang muslimnya terbesar di dunia, akan terasa aneh kalau ikut terdiam seperti kejadian Prancis itu. Keanehan itu bukan berarti mengajak untuk mengadakan perlawanan. Apa yang ditunjukkan oleh seorang Din Syamsudin, penulis kira sudah cukup baik. Jadikan statemen beliau ini adalah warning agar pihak Polri bisa menjelaskan kebijakan ini segamblang mungkin kepada publik bangsa ini. Kalau perlu jangan menunggu tokoh ini mendatangi Mabes Polri untuk klarifikasi?             Kalau terrnyata nantinya masih ada perlawanan lain lagi dari pihak yang kontra, akan terasa indah kalau dilakukan dengan "cerdas". cerdas maksudnya adalah meminta klarifikasi dengan baik dan pasti akan kebijakan ini. Kalau toh klarifikasi yang diberikan nantinya ada yang merasa tidak puas, sebaiknya dibawa saja ke ranah hukum.             Begitu juga dengan yang pro, utamanya pihak Polri, agar berlapang dada dalam menerima "tamu klarifikasi" itu. jadikan suasana klarifikasi yang ada sebagai niatan untuk memperbaiki. Akan cukup elegan juga jika pihak Polri membeberkan efektifitas dari penertiban seragam itu. Yakinkan kepada publik (yang mayoritas muslim ini) kalau peraturan seragam itu adalah murni kepentingan tugas dan (ini yang penting) tidak ada titipan dari manapun untuk memojokkan siapapun.             Uraian di atas adalah suasana ideal yang semoga dapat terwujud nantinya. Sehingga tidak perlu ada penggalangan massa apalagi aksi-aksi yang memicu anarkisme. Yang diperlukan adalah menjabarkan kebijakan itu kepada tokoh yang ada kemudian bersama tokoh tersebut mensosialisakan ke masyarakat.   Sikapi Dengan Kedewasaan             Semoga masyarakat cukup dewasa dalam melihat kebijakan ini. Tidak perlu tergesa-gesa menjustifikasi lembaga kepolisian ini sebagai anti apapun. Semoga juga elemen masyarakat, utamanya tokohnya, sesegera mungkin merapatkan barisan dan meyakinkan kepada ummatnya jika langkah yang terbaik adalah menyikapi ini dengan kedewasaan hati dan fikir.              Apa yang dilakukan Ketua PP Muhammadiyah (yang mungkin juga dengan yang lain) adalah sebuah bukti konkrit akan kedewasaan ummat Islam Indonesia. Ketika Islam dalam kondisi mayoritas masih mau bermain cantik dan cerdas walau ada kebijakan yang sedikit menggugah hak beragamanya. Ditambah lagi kesejukan semua tokoh agama dalam melihat setiap fenomena. Suatu keteladanan yang patut terus ditumbuh-kembangkan di negeri ini agar dunia mengetahui jika Indonesia adalah syurga bagi siapapun.             Kedewasaan dalam menyikapi fenomena (apalagi yang berbau sara) memang perlu terus dibina di tengah masyarakat. Dan itu hanya bisa dibangun dengan mensinergikan semua kepentingan yang ada yang dilandasi keterbukaan serta merangkul tokoh dengan memberikan penjelasan yang rasional. Kita patut bersyukur kebijakan untuk penertiban pemakaian jilbab bagi Polwan ini masih belum terlalu menggema efeknya, namun kewaspadaan harus tetap ada.   Kertonegoro, 13 Juni 2012     Penulis adalah :  Pemerhati Sosial dan Praktisi Pendidikan   Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember       ...

0 Komentar
WAKTU HAMPA

WAKTU HAMPA akhmad fauzi SELAMAT MALAM Seperti malam malam kemarin K ...

1 Komentar
TONG KOSONG NYARING BUNYINYA...??? : OBROLAN SORE

OBROLAN SORE : TONG KOSONG NYARING BUNYINYA...??? akhmad fauzi Entah apa yang ada di benak pencipta peribahasa ini. ...

0 Komentar
4

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    848483

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner

Komentar Terbaru