Web akhmad fauzi


Tetap semangat dalam berkarya untuk ibadah

Arsip Bulan June 2013

TERNYATA HANYA BEGINI HIDUP INI : OBROLAN SORE

OBROLAN SORE : TERNYATA HANYA BEGINI HIDUP INI Akhmad Fauzi (hikmah dari persidangan “bagi-bagi daging”) Sebenarnya hati ini sudah disiapkan untuk tidak terkejut, toh setiap har ...

0 Komentar
MENGGUGAT INDEPENDENSI MEDIA

MENGGUGAT INDEPENDENSI MEDIA                                                           Akhmad Fauzi*     Rada KECEWA dengan ........... (sengaja penulis rumpangkan) Kok getol banget dalam menguak kualisi...... (sengaja penulis rumpangkan) Isyu BBM lebih HOT lho? Ada apa ya? terusik nich rasa independensinya..... Padahal kan ini demokrasi, toh setgab kualisi juga "adem ayem". Nggak elok loh kalo mesti agak miring? .............. (sengaja penulis rumpangkan)  nggak jahat kok. Hanya sedikit "genit" Biarlah.... Apa ini ya namanya? Sunguh saya termasuk agak kecewa kalau ada media yang harus di pesan temanya. Nau'dzubillah...... Nuansa demokrasitis dan objektif sudah cukup harum di Indonesia. Mari kita jaga rasa demokratis ini seobjektif mungkin. Karena rakyat sudah cukup pandai dalam mengintip. Yakinlah, yang kotor pasti ditinggal!!! Ini hanya letupan rasa saya saja. Yang begitu sayang dengan laju kehidupan negeri ini yang sudah dinamis. tidak boleh terkotori lagi........ Oleh siapapun!!! TERMASUK MEDIA!!! SEBESAR APAPUN, itu media... Karena “Demokrasi” dibeli dengan amat sangat mahal! Yang korbannya terkubur massal.... di tanah lapang, yang bernama sejarah dan peradaban..... Selamat INDEPENDEN media-ku. Engkau termasuk "sang pencerah” bagi negeri ini.... Salam hangat untuk : @Metro_TV Dan @tvOneNews (CHANNEL FAVORIT KU) Kertonegoro, 19 Juni 2013 Salam    ---)***(---            Tulisan di atas adalah “OBROLAN SORE” yang terupload di laman facebook penulis di : Berangkat Dari Hati Untuk Menumbuhkan Energi Positif. Terinspirasi  ketika ada satu stasiun televisi yang “terkesan” menomorduakan dagdigdug-nya elemen bangsa menunggu kepastian BBM naik. Justru yang terblow-up adalah “genit”nya sebuah partai yang imbas untuk “perut” rakyat sama sekali memuakkan.            Bukan sekali ini saja nuansa pembidikan tema tayang media yang terkesan miring. Ingat saja ketika Bang Sutan Batugana (dengan gaya khas “melotot”) mengkritisi presenter dalam sebuah talkshow tentang pemberitaan partainya yang menurut beliau tidak proporsional. Beliau memberikan ilustrasi bagaimana sebuah bencana di Sidoarjo Jawa Timur yang “didiamkan” oleh sebuah media tetapi semarak ditayangkan di media lain. Atau senyapnya momen keluarnya seorang tokoh dari sebuah komunitas gerakan yang sebenarnya menarik untuk diberitakan.           Dalam pengamatan penulis, hanya beberapa tokoh saja yang berani mengkritisi media ini. Tentu hal ini bukanlah keanehan, rupanya prediksi Alvin Toefler terhayati betul oleh tokoh-tokoh negeri ini. Dalam Mega Trend-nya (tahun ’90-an), Alvin memprediksi akan terjadi perubahan besar dalam kehidupan budaya manusia, efek dari perkembangan komunikasi. Rupanya prediksi ini tertangkap dengan baik oleh media dan tokoh yang ada. Gus Dur (Allahuyarham) bisa besar, di samping kapabilitas dan konsistensi idealis beliau, tidak bisa dipungkiri juga ada peran tangan media untuk ikut memoles kebesaran beliau. Jejak itu sekarang (sepertinya) terwariskan ke seorang Jokowi. Begitu juga dengan beliau yang sekarang “tenggelam” tertelan bumi, padahal dulu begitu “garang” di layar-layar media.           Lebih dari itu, siapapun mengakui kalau media merupakan salah satu pilar demokrasi. Ketika reformasi meletus sampai sekarang hanya media yang terkesan melejit signifikan jatirinya, sementara yang lain masih terseok-seok untuk mencari pola yang ideal. Media termasuk yang cerdas dalam menyantap lezatnya buah reformasi. Bayangkan saja, batas masalah apa saja yang ada di negeri ini bisa terpangkas habis oleh kelincahan media. Hampir semua pejabat publik merasa “alergi” untuk berseteru dengan media (catatan: bahkan ditengarai ada pejabat/tokoh yang “menikah siri” dengan media, meski itu media lokal dengan ruang lingkup yang tidak seberapa). Atau, ini yang lagi tren, opini masyarakat mampu terbangun dengan mulus oleh pemberitaan media. Konten yang ingin penulis tekankan adalah ingin membuktikan betapa media begitu berarti bagi perkembangan hidup.           Penulis merasa bangga dengan binarnya media ini. Penulis meyakini kalau media mampu menjadi salah satu kontrol sekaligus penyeimbang segala regulasi peradaban. Tetapi penulispun termasuk yang “merasa takut” kalau media keluar dari huma indepensinya. Apakah itu sudah mulai terasa? Ada komentar dari teman penulis dalam menanggapi OBROLAN SORE di atas. Sang teman berkomentar begini : Sayang sekali ............ (sengaja penulis rumpangkan) yang kami orang awam kira sumber berita ?? malah sering cenderung tendensius. Kembali ke pertanyaan awal: siapa & parpol apa dibalik TV swasta. Komentar ini bisa jadi mewakili rupa masyarakat sekarang, jika mereka yang tadinya dianggap awam ternyata mampu dengan jeli melihat liukan media, meski disembunyikan sekalipun.           Tak terkira bahaya yang akan ditimbulkan jika media tidak berpihak pada kebenaran. Awam akan terombang-ambing semau yang memiliki media. Kebijakan akan terseok-seok bahkan kalang kabut karena dipental-pentalkan. Padahal kebenaran bisa dilihat ketika hilang segala tendesi. Munculnya kebenaran adalah jaminan kenyamanan dalam beraktifitas yang semua itu bermuara pada “kestabilan”.           Target tulisan ini bagi penulis adalah adanya komitmen media jika awam butuh penyegaran informasi yang objektif dan bertanggung-jawab. Dengan informasi yang segar itu bisa menjadi acuan awam untuk menapaki aktifitas keseharian, apapun stratanya. Karena awam begitu sederhana permintaannya, karena awam teramat lugu obsesinya, karena awam (terbukti) bukan istana yang ingin ditidurinya. Dan awam, begitu berharap banyak dengan keberadaan media. Tentunya media yang bisa menyambut permintaan, obsesi, dan kegelisahannya.            Tulisan ini hanyalah sebuah “koma” dari sebuah buku yang berjilid-jilid yang tertumpuk di rak besar kehidupan. Terlalu naif jika berharap besar dan memberikan efek simultan besar. Cukup sebagai ghiroh untuk mengetuk pintu. Apabila terbukakan, salam pertama yang terucap adalah, “Maaf, menganggu sebentar, kami membawa rombongan. Apakah punya sedikit waktu....?” Jika dipersilahkan maka masih harus ada diskusi-diskusi. Kalau toh tidak diperkenankan akan pulang kembali, tidur seranjang lagi dengan awam sambil bergumam, “Tuhan, hanya ini yang bisa aku ihtiari. Betapa besarnya Engkau...!”   Kertonegoro, 23 Juni 2013   Penulis adalah : Pemerhati Sosial dan Praktisi Pendidikan Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember-Jawa Timur                       ...

0 Komentar
AKHIR YANG SEBENARNYA AWAL

AKHIR YANG SEBENARNYA AWAL akhmad fauzi   Bersyukurlah karena harus ada akhir, sehingga bisa mengawali tidak ada pelecehan, selama akhir itu menjadi energi untuk mengawali   Alam tidak pernah mengeluh Walau diusia tuanya Yang melirik ramah Hanya satu dua mata   Kata tidak pernah menggugat Meski dengan pongah selalu diakhiri Dengan “hanya sebuah kata....”   Kita yang terlena, Akan syukur ini   Bisa jadi Terlelap benar Dengan nafas penuh lumpur Kepongahan diri     Kertonegoro, 22 Juni 2013 (Akhir yang sebenarnya awal) ...

0 Komentar
AKHIR ATAU AWAL : OBROLAN SORE

OBROLAN SORE :  AKHIR ATAU AWAL Akhmaf Fauzi*   Akhirnya tuntas sudah proses pembelajaran ini. ternyata setahun mulai tampak tidak terasa. Rasanya baru kemarin awal tahun pembelajaran ini dimulai. Hari ini, Selasa, 22 Juni 2013 (khususnya di wilayah Jawa Timur) adalah akhir proses pembelajaran untuk semua jenjang pendidikan. Lega rasanya meskipun dua mingguan ini Bapak/Ibu guru harus kerja ekstra menghitung angka-angka. Lega rasanya, melihat raut muka sebagian orang tua terlihat ceria tatkala keluar dari gerbang sekolah. Yah, semoga ini adalah ekspresi dari kebisingan aktifitas yang selama setahun ini tergeluti. Bising bagi guru adalah bentuk “kecintaannya” akan profesi. Bising bagi orang tua adalah totalitas hati karena merasa menjadi wali bagi anaknya. Bising bagi masyarakat sebagai wujud kepedulian akan kelangsungan perjalanan negeri ini. Kelangsungan hidup yang HARUS diturunkan ke mereka yang sekarang dalam proses. Yang hari ini serentak terakhiri tahun pembelajarannya. Benarkah benarkah ini akhir? Atau justru awal? Tergantung kita dalam melihatnya. Kalau dari sisi hitungan angka sudah tentu ini penanda hasil akhir dari suatu klasifikasi. Dari sisi kebutuhan diri, jelas sudah menunggu berapa “awal rupiah” yang harus dikeluarkan. Dari sisi MOTIVASI, woww... tidak boleh dikatakan akhir, karena motivasi adalah “bahan bakar” untuk menuju ke yang akhir. Sementara akhir dari hidup ini hanya satu, yaitu : SUKSES. Jadi, kita tutup angka yang sudah tertulis. Buatkan resume akan angka yang telah diperoleh itu kemudian kita kalkulasi kekuatan dan kelemahan dari target selanjutnya. Untuk rupiah, siap-siap saja ada tambahan sekitar 20-30 % dari kalkulasi sebelumnya karena BBM telah terbukti sah dan menyakinkan naik. Untuk motivasi? Inilah yang “tidak sembarang orang” mau melihatnya, bahkan melirikpun kadangkala terasa muntah. Padahal motivasi inilah yang menentukan kekuatan angka dan rupiah itu? Motivasi bagi sebagian orang seakan mahkluk langka yang nilai korelasi kebenarannya masih menggantung di langit. Ketika dikatakan, “Nggak apa-apa ya, nilai kamu tahun ini menurun. Tetap semangat, ada hikmah di dalamnya”. Maka yang membisikkan ke hati adalah “keraguan” atau justru sumpah serapah sembari bergumam, “Ahh, belagu lo, sakit tau lihat nilai kayak gini...?” Motivasi bagi sebagian orang dikatakan barang mewah, hanya untuk mereka-mereka yang merasakan “nikmatnya” hidup. Sehingga bagi mereka ang tercatat oleh sejarah sebagai “yang kurang beruntung” (dan bertahun-tahun) meletakkan motivasi ini di laci dapurnya persis di sebelah terasi dan garam. Diingat ketika bumbu-bumbu dapur mulai menipis. Motivasi bagi sebagian orang adalah khayal, hasil dari pembenaran nilai hidup yang sama sekali berbanding balik dengan realitas yang ada. Maka ketika motivasi tertangkap telinga, menggigil seluruh tubuh setelah sekian waktu panas terpanggang beban-beban. Kasihan manusia ini, motivasi harus dikategorikan “freezzer” semnetara hidup adalah lembar tagihan yang terbaca beban dalam langkahnya. Motivasi seharusnya bahan bakar yang harus dipastikan ketersediaannya dalam melangkah di pagi hari sampai menata selimut di malam hari. Motivasi sejatinya adalah frase-frase syurga yang diperkenankan oleh Sang Pemilik Syurga untuk “dicontek” di bumi ini. Motivasi senantiasa duduk bersimpuh berhadapan dengan kerberhasilan, menanti siapa yang mau mendekati dan mengajaknya berteman. Motivasi adalah kepastian, karena menjadi bisa menjadi pengukur niat, langkah, dan hasil yang akan dicapai. Sejarah memang membuktikan, motivasi selalu hadir belakangan. Ketika semua histeris berlarian menenggak ketidaknyamanan. Karena motivasi dipanggil ketika meyakini logika ternyata hanya mampu mengangkat tong yang tidak seberapa beratnya, walau tong itu berisikan “sampah” Jadi, memilih mana kita? Apakah sibuk menghitung angka-angka yang (ternyata) ada batas akhirnya yang selalu berakhir pada nominal rupiah? Atau menguatkan motivasi yang gratis, pasti dan sejatinya menjadi penentu angka-angka itu? Jadikan akhir tahun pembelajaran ini sebagai awal motivasi. Bagi siswa sebagai motivasi merengkuh luasnya hikmah. Bagi orang tua sebagai motivasi menguatkan keyakinan diri akan beban-beban. Bagi pendidik, motivasi untuk menghitung kekurangan-kekurangan dari luasnya ketidaksempurnaan. Bagi masyarakat dan negara, menjadi motivasi untuk lebih mesra dalam mendekat!   AKHIR ADALAH AWAL   Bersyukurlah karena harus ada akhir, sehingga bisa mengawali tidak ada pelecehan, selama akhir itu menjadi energi untuk mengawali   Alam tidak pernah mengeluh Walau diusia tuanya Yang melirik ramah Hanya satu dua mata   Kata tidak pernah menggugat Meski dengan pongah selalu diakhiri Dengan “hanya sebuah kata....”   Kita yang terlena, Akan syukur ini   Bisa jadi Terlelap benar Dengan nafas penuh lumpur Kepongahan diri     Kertonegoro, 22 Juni 2013 (Akhir yang sebenarnya awal)   Penulis adalah : Guru SMP NEGERI 2 JENGGAWAH                     ...

0 Komentar
MENGGUGAT INDEPENDENSI MEDIA : OBROLAN SORE

PANDAI-PANDAI MENYERAP INFO PINTU "MEGATREND" SUDAH TERKUAK DUNIA TAK LAGI BERJARAK TERMASUK SECUIL "KEKOTORAN" YANG TERSIMPAN DI "PERFORMANCE" YANG ADA ALLAH PELINDUNG KITA! OBROLAN SORE : MENGGUGAT INDEPENDENSI MEDIA Akhmad Fauzi Rada KECEWA dengan @Metro_TV, kok getol banget dalam menguak kualisi PKS. Isyu BBM lebih HOT lho? Ada apa ya? terusik nich rasa independensinya..... Padahal kan ini demokrasi, toh setgab kualisi juga "adem ayem". Nggak elok loh kalo mesti agak mir ...

0 Komentar
2

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • TUGAS KE-4; KELAS IX
    20-11-2012 15:08:37  (64)
  • TUGAS KE-4; KELAS VIII
    31-10-2012 22:06:36  (62)
  • ANTOLOGI PUISI : DIALOG SETENGAH JALAN : EPISODE 1; Bersimpuh Keyakinanh
    30-10-2012 22:44:53  (56)
  • Tugas Kelas IX
    18-10-2012 12:16:29  (54)
  • NASKAH DRAMA UNTUK MATERI LATIHAN 2
    24-11-2012 14:56:24  (51)

Artikel Terbaru

Pengunjung

    888602

ANIMASI GBR POJOK

VISITOR DATE

Flag Counter

STATS domain 1

Check google pagerank for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net Rating for bermututigaputri.guru-indonesia.net

DAERAH SEBARAN

REPUTASIWEB

Website reputation

Facebook

alexa

alexa link

Link Partner